Insiden ketinggalan pesawat di KL membuat semua rencana yang telah disusun menjadi berantakan. Kami baru mendarat di Macau International Airport pada pukul 21.30, terburu-buru mengantri di imigrasi, menjemput bagasi dan segera mengantri bus AP1 yang akan membawa kami ke Macau Ferry Terminal. Biaya yang diperlukan untuk sekali jalan adalah 3,2 MOP, namun bisa juga dibayarkan menggunakan HKD. Sayangnya waktu itu saya hanya mengantongi HKD dan pecahan terkecil yang saya miliki adalah 10 HKD, jadilah dengan penuh keikhlasan saya membayar dan tidak mengharapkan kembalian apapun dari bapak driver bus. Lesson number one : selalu sediakan recehan untuk naik bus di Macau, karena driver tidak akan memberikan kembalian.
| -Loket penjualan tiket Ferry TurboJet- |
Setibanya di Macau Ferry Terminal, kami segera menuju loket penjualan yang terletak di lantai dua, berusaha mengantri tiket ferry tujuan Kowloon Ferry Terminal, yang letaknya paling dekat dari hostel yang sudah kami booking di area Tsim Sha Tsui. Tetapi rupanya ferry terakhir menuju Kowloon berangkat pukul.22.30. Night Sailing yang masih available hanya ferry tujuan Hongkong Ferry Terminal. Cukup lama kami berembuk sebelum memutuskan berangkat ke Hongkong (HK) malam itu, karena MTR di HK tidak beroperasi lagi setelah tengah malam. Pilihan satu-satunya hanyalah naik taksi dari Hongkong Island ke Kowloon yang jelas berbeda pulau dan pasti kami akan dicharge kami dua kali lebih mahal. Tetapi daripada menghabiskan waktu di Macau hingga pagi, kami memutuskan night sailing menggunakan Turbojet kelas ekonomi seharga 184 HKD/orang, lebih mahal dibandingkan day sailing.
Tiket yang available saat itu hanyalah keberangkatan pukul.00.15. Sembari menunggu keberangkatan, kami sempat berbincang dengan seorang TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang juga akan kembali ke HK. Namanya mbak Jane, wanita mungil asli Semarang, berlogat jawa kental tetapi style-nya up to date dengan sepatu boat, rok selutut dan stocking. Cukup lama dia bercerita mengenai suka duka bekerja di HK selama hampir dua tahun, sebelum akhirnya mbak Jane pamit duluan untuk menumpang ferry pukul.11.50.
| -Waiting room at 3rd floor, Macau Ferry Terminal- |
Saya dan rombongan memilih pindah ke lantai tiga dimana terdapat waiting room yang menyediakan tempat charge gadget dan air minum gratis. Tepat di sampingnya terdapat restoran siap saji McD. Sayangnya setelah jam dua belas malam, tempat ini ditutup.
TurboJet ferry sangat besar dan cukup mewah untuk ukuran ferry rute pendek, dibandingkan ferry yang pernah saya tumpangi dari Batam ke Singapura atau dari Phi-Phi Island ke Phuket Town. Tempat duduknya teratur sesuai nomor kursi yang diberikan, kursinya terbagi 3-6-3, sangat lapang dan nyaman. Saking nyamannya, dalam perjalanan pendek selama sejam menuju HK, saya sempat terlelap pulas.
TurboJet ferry sangat besar dan cukup mewah untuk ukuran ferry rute pendek, dibandingkan ferry yang pernah saya tumpangi dari Batam ke Singapura atau dari Phi-Phi Island ke Phuket Town. Tempat duduknya teratur sesuai nomor kursi yang diberikan, kursinya terbagi 3-6-3, sangat lapang dan nyaman. Saking nyamannya, dalam perjalanan pendek selama sejam menuju HK, saya sempat terlelap pulas.
Setibanya di HK, antrian imigrasi cukup panjang dan lama karena ada pemeriksaan suhu badan penumpang terkait issue flu burung yang sedang santer di China. Setelah melalui pemeriksaan, kami langsung menuju basement untuk mencari taksi ke Kowloon. Jangan sampai salah memilih taksi, karena taksi terbagi dua, yaitu yang khusus mengantar di area Hongkong Island dan yang ke Kowloon. Untuk menuju Kowloon, taksi menyeberang pulau dan melalui tol, tarif awal ketika naik adalah 20 HKD dan 10 HKD untuk tol. Total yang kami bayarkan hingga tiba di Nathan Road, Tsim Sha Tsui adalah 115 HKD.
![]() |
| -Mirador Mansion- |
Dari Nathan Road, kami hanya perlu berjalan kaki sekitar dua menit untuk mencapai Mirador Mansion, sebuah gedung tua yang lantai dasarnya merupakan ruko untuk berjualan, sedangkan lantai atas dijadikan tempat tinggal.
![]() |
| -Cosmic Guest House, Hongkong- |
Cosmic Guest House (CGH) yang telah kami booking sebelumnya berada di lantai 12. Beruntung walaupun kami tiba menjelang pagi (sekitar pukul.03.00), namun ada staff yang standby di front desk. Kami langsung diantarkan ke three beds ensuite room seharga 440 HKD semalam, berukuran 1,5 x 5 meter. Tempat tidurnya disusun sedemikian rupa membentuk huruf U sehingga ketiga tempat tidur kami saling menempel. Terdapat kamar mandi di dalam kamar yang terpisah dengan closetnya. Tidak disediakan sarapan tetapi ada fasilitas air panas untuk tamu, lumayan buat nyiram bekal mie gelas. Apabila melihat lokasinya yang berada di Tsim Sha Tsui dan dekat dari MTR (Tsim Sha Tsui MTR exit D), hostel ini harganya cukup terjangkau walaupun kamarnya sempit. Tetapi bagi backpacker seperti kami, CGH cukup membuat betah sehingga kami kemudian memutuskan untuk menginap selama tiga malam.
![]() |
| -Keep smiling, on the ferry to Hongkong at 1 am-
Then finally after a long way journey across three countries in one day, we were so relieved being in HK and can't wait to explore the country! (^_^)b
|
LCCT siang itu panasnya cetar membahana. Saya, Rusty dan Hanie - partner traveling saya di Singapura dan Penang setahun lalu- turun tergesa dari taksi tanpa argo yang kami sewa dari KL Central ke LCCT. Kepala kami masih penat, sisa late flight semalam yang membuat kami baru bisa beristirahat nyaman di hostel pada pukul 03.00 pagi.
Semalam sebelumnya, kami bertiga memulai petualangan dengan menumpang pesawat Airasia AK 1389 tujuan Kuala Lumpur (KL) yang sudah kami kantongi setahun sebelumnya. Maklum, kami adalah salah satu dari banyak orang yang mengandalkan traveling murah meriah ala berburu free seat Airasia. Kuala Lumpur hanyalah persinggahan untuk mencapai destinasi utama kami, yaitu Macau. Pesawat yang kami tumpangi delay sekitar 30 menit, sehingga kami baru menginjakkan kaki di LCCT pada pukul 00.30. Berhubung connecting flight pukul 14.25 keesokan harinya, kami pun memutuskan untuk menginap di KL. Menyadari akan tiba tengah malam di KL, kami berinisiatif untuk booking hostel di daerah Bukit Bintang yang lebih murah daripada Tune Hotel LCCT , berharap sempat sight-seeing, dekat dari moda transportasi sehingga memudahkan untuk kembali ke LCCT keesokan harinya. Pilihan kami jatuh pada Serenity Hostel di daerah Changkat, Bukit Bintang.
Sekitar pukul 02.30, kami baru check in di hostel. Jadilah keesokan harinya kami bangun terlambat, rush check out, menumpang MRT dari Bukit Bintang tujuan KL Sentral. Dari KL Sentral kami bermaksud menumpang Airasia shuttle bus yang hanya men-charge 10 MYR/orang dengan memperlihatkan tiket penerbangan. Tapi apa daya, pukul 12.30, kami masih luntang lantung di KL Sentral, menunggu keberangkatan shuttle bus pukul.12.45 yang diestimasikan akan tiba di LCCT pukul 13.50, sedangkan gate pesawat close pukul 14.05. Terlalu mepet. Jadilah kami memutuskan untuk menyewa taksi tanpa argo seharga 75 MYR untuk mengantarkan kami ke LCCT.Pukul 13.15, kami tiba di LCCT dan langsung tergesa ke counter untuk drop bagasi. Counter bagasi tidak kalah riuhnya dari suasana LCCT siang itu. All counters penuh calon penumpang, antrian mengular panjang. Entah mengapa kami tidak berpikir untuk give up bagasi dan membawa semua tas ke cabin. Kami malah memilih tetap mengantri dan ketika tiba di counter, petugas counter malah hampir menolak untuk memasukkan bagasi kami. Wajar, bagasi ditutup 45 menit sebelum keberangkatan. Tapi separuh membujuk kami memaksa untuk memasukkan bagasi, petugas counter menyerah, "but you gonna be hurry!" katanya.
Lepas dari antrian counter, kami malah terjebak antrian imigrasi dan body check yang panjangnya naudzubilleh. Kami bertiga hanya bisa pasrah dan berharap pesawatnya bakal delay. Tapi apa boleh dikata, belum sempat paspor saya dicap keluar oleh imigrasi Malaysia, panggilan last called untuk penumpang AK 1056 tujuan Macau sudah mengaung memanggil nama kami bertiga. Kami tiba di gate T5 tepat sepuluh menit sebelum pesawat boarding, namun kami tetap ditolak masuk karena gate closed lima belas menit yang lalu. Kami bertiga hanya bisa menatap nanar pesawat kami yang masih parkir manis di landasan. Tapi percuma mendebat petugas gate, berbeda dengan Indonesia, mereka sungguh stick to the rules. Saya sudah tidak konsentrasi mendengarkan penjelasan mengenai bagasi kami yang sudah kepalang check in, yang terngiang hanyalah kata-kata : "Sorry, you've already missed the flight!"
Setelah insiden ketinggalan pesawat, yang pertama kali teringat oleh kami adalah bagasi yang terlanjur dimasukkan. Kami khawatir tas kami terikut penerbangan ke Macau. Namun ternyata, apabila penumpang belum check in di gate, maka bagasi tidak akan diikutkan masuk ke pesawat. Kami diminta untuk menjemput bagasi di counter lost and found di area kedatangan. Bagaimana dengan paspor kami yang sudah kepalang dicap keluar oleh imigrasi? Kami harus melapor ke kantor imigrasi yang berada tepat di depan counter imigrasi agar paspor kami diberi coretan "missed flight", sehingga kami bisa masuk kembali ke area kedatangan untuk menjemput bagasi.Lalu bagaimana dengan perjalanan kami yang sudah direncanakan selama lima hari ke depan? Haruskah hanya berakhir sampai di KL saja? Yang pertama kali terpikirkan oleh kami bertiga adalah mencari flight termurah ke Macau atau Hongkong, jadilah kami beringsut ke mesin penjualan tiket yang terletak di area keberangkatan internasional. Sedang asyik otak-atik jadwal keberangkatan yang disesuaikan dengan budget, petugas yang berjaga di mesin menyarankan kami untuk melapor ke service counter sebelum membeli tiket yang baru. "Maybe they'll have a better solution for you...," ujarnya.
Dengan penuh harapan, kami menuju ke counter R65-R67 yang terletak di area keberangkatan domestik dan mengadukan nasib. Petugas counter memberikan solusi untuk mengikutkan kami ke penerbangan berikutnya menuju Macau pada pukul.17.30, dengan membayar biaya penggantian 238 MYR per-orang. Kami langsung menyetujui, karena harganya lebih murah daripada tiket baru menuju Macau yang harganya termurahnya 500 MYR-an. Bahkan bagasi sebanyak 20kg juga diberikan, sama kondisinya dengan flight sebelumnya. Check in dan cetak boarding pass dilakukan langsung oleh petugas di counter sehingga kami tinggal menyetor bagasi dan langsung mengantri (kembali) di imigrasi.
Akhirnya, setelah hari yang panjang dan melelahkan di LCCT, kami mendarat manis di Macau International Airport pada pukul 21.30 dan berharap semoga pengalaman hari ini menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir untuk kami bertiga :)
Sulawesi
Selatan tidak hanya terkenal dengan wisata kuliner yang beragam dan keindahan
Pantai Losari yang memukau. Peninggalan purbakala yang sarat dengan sejarah
dan budaya pun layak menjadi salah satu tujuan wisata apabila berkunjung ke Butta’Anging Mamiri.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan Taman Prasejarah Leang-Leang yang terletak di Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan merupakan destinasi favorit para pelancong yang hendak menikmati gemericik air terjun atau sekedar bercengkrama dengan kupu-kupu di The Kingdom of Butterfly.
Bantimurung Bulusaraung dan Leang Pettakere berlokasi 20 km dari Bandara Sultan Hasanuddin, 15 km dari kota Maros atau sekitar 50 km dari pusat kota Makassar. Dapat dicapai dengan menggunakan mobil atau bus selama kurang lebih satu jam perjalanan.
Let's Visit Sulawesi Selatan 2012
Published on Majalah Chic #112, 4th - 18th April 2012
Makansutra Glutton's Bay yang terletak di seputaran Esplanade merupakan salah satu street hawker populer di Singapura. Kelezatan kuliner asia yang kental dengan nuansa melayu serta view menawan yang langsung menghadap ke Marina skyline membuat tempat ini selalu menjadi favorite saya setiap kali berkunjung ke negeri Merlion.
Kenangan saya bercengkrama di Glutton's Bay sambil menikmati teh tarek dan roti jala di suatu sore setelah menonton Singapore F1 Grand Prix tahun lalu, menginspirasi cerita ini.
Cinta mampu menembus batas ruang dan waktu,
batas angan dan kenyataan,
batas perasaan dan logika,
namun ketika semua terkalahkan,
Adit memilih pergi meninggalkan Marina di Glutton's Bay...
Published on Majalah Chic #112, 4th-18th April 2012
Phi Phi Pier cukup riuh siang itu, orang-orang berseleweran memenuhi setiap sudut dermaga. Wajar, ferry boat terakhir menuju Phuket akan berangkat beberapa saat lagi. Sambil memanggul backpack dan menenteng tas plastik berisi beberapa kaos Phi Phi Island hasil menawar di kios dekat Pier, saya menerobos kerumunan manusia dan ikut mengantri ferry Chao Koh.
![]() |
| -Phi Phi Pier- |
Ferry ini cukup besar, bertingkat tiga dan cukup lapang. Di bagian dalam dek terdapat ruangan besar dengan kursi-kursi berbaris menghadap ke depan. Situasinya mengingatkan saya dengan Pinguin Ferry dari Batam menuju Singapura yang saya tumpangi tahun lalu. Saya memilih bangku barisan terdepan, paling dekat dengan tv dan pintu keluar menuju anjungan kapal, serta bersebelahan dengan seorang wanita Thai baik hati yang menjadi teman ngobrol saya selama perjalanan.
Tak berapa lama setelah saya duduk manis di kursi, ferry perlahan mulai bergerak meninggalkan Phi Phi Pier. Seketika pula petugas kapal perempuan berpakaian khas Thailand mulai berkeliling membagikan kami cemilan gratis berupa pisang sekaligus menawarkan minuman dan makanan lain yang bisa dibeli di bar yang terdapat di tengah-tengah dek. Beberapa petugas pria berseragam hijau juga mulai memeriksa karcis setiap penumpang sekaligus menawarkan transportasi dari Rassada Pier menuju berbagai tempat di Phuket (PhuketTown, Patong Beach, Kata Beach, Karon Beach dan Kamala Beach). Saya buru-buru memperlihatkan alamat hostel yang menjadi tujuan saya di Phuket : Lub Sbuy Guest House yang berlokasi di Phuket Town. Petugas langsung mengerti dan mendaftarkan saya untuk menumpang minivan tujuan Phuket Town seharga 50 BHT. Saya langsung diberi stiker kuning bertuliskan Phuket Town yang ditempelkan di baju saya.
Suasana di anjungan kapal tidak terlalu ramai, kebanyakan penumpang memilih tetap berada di dalam dek ber-AC daripada menghabiskan waktu di anjungan dengan panas teriknya matahari.Hanya beberapa wisatawan asing yang terlihat berjemur di bagian depan kapal. Saya sendiri memilih untuk berkeliling, mulai dari anjungan lantai dasar sampai tingkat tiga kapal. Sejauh mata memandang hanya terlihat laut lepas, buih ombak dan beberapa kapal pesiar mewah yang ditumpangi turis asing. Tak berapa lama pemandangan mulai berganti pulau kecil berbukit, dermaga Rassada Pier mulai terlihat dari kejauhan. Phuket here I come...
Rassada Pier di sore hari tak kalah riuh dibandingkan Phi Phi Pier. Ini karena pada sore hari bukan hanya penumpang kapal antar pulau saja yang memenuhi dermaga, wisatawan yang mengikuti island day tour dari travel agent juga mulai kembali ke Phuket.
Stiker yang ditempelkan oleh petugas di kapal sangat berguna di tengah keramaian orang yang lalu-lalang, pengemudi minivan tujuan Phuket Town segera mengenali saya dan mengantarkan ke minivan yang terparkir tidak jauh dari dermaga. Pengemudi meminta saya menunggu bersama dua penumpang bule lainnya, sebelum akhirnya dia kembali mengumpulkan penumpang-penumpangnya yang lain dari ferry yang sedang berlabuh.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, akhirnya keseluruhan penumpang minivan berjumlah delapan orang mulai duduk manis di kursi masing-masing. Saya memperoleh hot seat di kursi depan sebelah pengemudi dengan pertimbangan tujuan saya yang paling dekat dari Rassada sehingga saya yang akan diturunkan paling awal.
![]() |
| -Entering Gate Rassada Pier- |
Minivan baru berjalan sekitar lima menit, pengemudi tiba-tiba menghentikan kendaraannya, tepat di depan Lub Sbuy Guest House! Astaga....ternyata jarak antara Rassada Pier dengan Lub Sbuy hanya 2,3 km atau hanya sekitar lima menit berkendara! Pantas saja beberapa wisatawan berkulit putih memilih membopong backpack dan berjalan kaki saja dari dermaga ke hostel. Yaaaah....tak apalah untuk ongkos 50 BHT.
Karena tidak membooking sebelumnya, saya hanya bisa berdoa semoga masih ada kamar yang tersisa untuk saya di Lub Sbuy. Wajar, hostel yang baru dibuka tahun 2009 ini cukup populer di kalangan wisatawan yang berkunjung ke Phuket. Bukan saja karena jaraknya yang dekat dari Rassada Pier, tetapi tepat di belakang hostel terdapat terminal bus Phuket yang bisa ditempuh hanya dengan dua menit berjalan kaki!
Beruntung masih terdapat bed kosong di female dorm room seharga 300 BHT semalam dengan shared bathroom. Setelah beres dengan administrasi, saya langsung menuju kamar saya yang terletak di lantai tiga. Kamarnya cukup luas dengan fan besar di tengah ruangan, dua ranjang susun di dalamnya, empat loker bergembok, jendela dengan gorden dan balkon yang menghadap ke jalan.Saya memilih tempat tidur di bagian bawah dengan seprai dan selimut wangi . I can't ask for more!
![]() |
| picture taken from http://travellingangel.wordpress.com/ |
Seorang bule berkebangsaan Kanada bernama Sarah telah menginap di kamar tersebut sehari sebelumnya. Setelah berkenalan, saya berpamitan untuk mandi di shared bathroom hostel yang sangat bersih. Kamar mandinya berupa bilik-bilik bersekat dengan wastafel. Tersedia sabun dan shampo cair di setiap bilik tersebut. Beres membersihkan diri, sore itu saya habiskan mengobrol dengan Sarah dari balkon kamar kami.
Malamnya, di pelataran hostel terdapat pedagang makanan berbagai rupa yang menggelar dagangannya. Namun, walaupun Phuket termasuk kawasan muslim Thailand dengan makanan halal yang mudah diperoleh, saya tetap waspada dan memutuskan membeli rice chicken curry beku dari Seven Eleven yang hanya berjarak beberapa ruko saja dari hostel.
Phuket Town sunyi senyap pada malam hari, hanya beberapa warga lokal bersepeda motor lalu lalang di depan hostel dan deru bus tingkat dari terminal yang riuh terdengar. Saya menghabiskan waktu berkirim kabar dengan keluarga menggunakan komputer berbayar di lobby hotel. Rasanya tak sabar menanti waktu untuk mengeksplorasi Phuket keesokan harinya....
to be continued...:)
Selalu
ada alasan untuk mengunjungi Makassar. Pantai yang eksotik dengan latar sunset
yang romantis, atau kulinernya yang beragam dan mampu mendecakkan lidah
penikmatnya. Makassar menyimpan seribu satu cerita yang membuat pelancong selalu
menyimpan kerinduan untuk kembali.
Pertama kali mendarat, Bandara Internasional
Sultan Hasanuddin telah memberi kesan yang apik. Bandara yang dibuka tahun 2008
ini memberikan atmosfer yang setara dengan bandara di luar negeri. Namun, Bandara Hasanuddin yang mempesona hanyalah gerbang pembuka saja. Berikut beberapa tempat yang harus disinggahi ketika berkunjung ke Makassar :
Pantai Losari merupakan ikon kota
Makassar. Lokasinya sangat strategis dan mudah diakses. Terletak di jantung
kota yang ramai dengan hotel, restaurant dan bahkan kantor pemerintahan. Losari
memiliki pelataran luas yang digunakan sebagai pusat kegiatan kota. Pantai
Losari menjadi istimewa karena pengunjung dapat menikmati sunrise dan sunset
pada titik yang sama. Kawasan ini selalu ramai dikunjungi menjelang senja,
ketika matahari perlahan menghilang dari cakrawala dan hanya menyisakan
semburat jingga di langit. Sungguh panorama yang romantis. Banyak pula yang
datang untuk menikmati anging mamiri
(hembusan angin) atau sekedar jajan makanan khas Makassar. Mulai dari nyoknyang
(bakso), pisang epe sampai coto Makassar dapat dinikmati di sini! Lelah
berjalan menyusuri pantai, cobalah berkeliling Losari menumpang becak
tradisional Makassar yang dikayuh seorang daeng
(abang) becak.
Fort Rotterdam (Benteng Rotterdam),
berjarak sekitar 500 meter dari Pantai Losari, benteng yang dibangun oleh Raja
Gowa ke X ini masih berdiri kokoh. Tidak dipatok tiket masuk ke benteng yang
berusia lebih dari 400 tahun ini, karena
lokasinya juga berfungsi sebagai kantor Pemerintah Pusat Kebudayaan Makassar.
Di dalam Benteng Rotterdam terdapat Museum Negeri La Galigo yang menyimpan
beberapa sisa peninggalan budaya suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Selain
itu terdapat pula penjara bawah tanah yang pernah didiami Pangeran Diponegoro
selama 26 tahun ketika beliau ditahan oleh Belanda. Pelataran di bagian tengah
Benteng biasa digunakan untuk berbagai pertunjukan budaya, salah satunya adalah
pementasan karya sastra yang tersohor : I La Galigo. Benteng Rotterdam juga
dikenal sebagai Benteng Pannyua yang dalam bahasa Makassar berarti Penyu, ini
karena apabila dilihat dari angkasa, keseluruhan kawasan Benteng berbentuk
seperti Penyu.
Penggemar fotografi dan budaya
dapat memuaskan mata mengunjungi Pelabuhan Paotere, pelabuhan rakyat yang
terletak sekitar 3 kilometer dari pusat kota Makassar. Paotere merupakan
pelabuhan bersandarnya kapal layar khas Makassar, yaitu Phinisi. Paotere dan Phinisi merupakan memoar
representatif bagi keberanian para pelaut Makassar yang gagah berani. Saat ini
Paotere digunakan juga sebagai dermaga kapal antar pulau dan TPI (tempat
pelelangan ikan). Hasrat untuk menikmati makanan laut segar dengan harga
terjangkau dapat dipuaskan di sini. Dermaga Paotere yang menjorok ke laut digunakan
untuk memancing. Paotere mulai riuh aktivitas sejak subuh hingga menjelang
senja.
Kuliner Makassar merupakan salah
satu yang terbaik di Indonesia Timur. Kelezatan rasanya membuat penikmatnya
enggan beranjak sebelum lidah berhenti berdecak, berikut daftar kuliner yang
wajib dikecap ketika ke Makassar :
Coto Makassar, sajian
berupa soto daging dengan kuah yang diberi kacang sangrai, dinikmati dengan
potongan ketupat. Sajiannya dapat ditemui di setiap sudut kota ini. Namun,
sajian coto dari Warung Coto Daeng, Coto Gagak atau Coto Nusantara patut
dicoba.Pallu Basa,
serupa dengan coto, berupa soto daging yang kuahnya diberi kelapa goreng. Biasa dinikmati dengan telor bebek dan nasi.
Untuk sajian yang satu ini, Pallubasa Onta wajib dikunjungi. Konro atau yang
lebih dikenal dengan iga sapi, juga merupakan salah satu kuliner andalan. Bisa
pilih, konro bakar atau sop konro sama enaknya. Untuk urusan konro, RM. Konro
Karebosi jawaranya.
Mencari sajian seafood yang enak dengan harga
terjangkau? Coba Kunjungi Rumah Makan Lae-Lae di jalan Datumuseng. Makanan laut
segar bisa langsung dipilih dan diolah sesuai selera. Jangan lupa pula membawa
pulang otak-otak Lae-Lae Datumuseng sebagai oleh-oleh. Ingin menikmati western food, sunset sekaligus sajian live music, merapatlah ke Kampung Popsa, foodcourt outdoor yang
menjorok langsung ke pantai. Tempat ini mulai ramai sejak sore hingga malam
hari. Jangan luput
mencicipi Mie Titi, mie kering dengan kuah kental berisi seafood! Saking lezatnya,
pengunjung rumah makan rela antri tempat duduk. Walaupun Mie Titi memiliki
beberapa cabang di Makassar, namun setiap cabang selalu penuh pembeli!
Nyoknyang atau
bakso pun layak dicoba di Makassar, yang terkenal adalah sajian Bakso Ati Raja. Sekotak Jalangkote
(pastel) dan Bikang Doang (gorengan udang) dari jalan Lasinrang layak pula
dibawa pulang sebagai cemilan.
Setelah puas jalan-jalan dan
kuliner, jangan lupa mampir membeli oleh-oleh khas Makassar di jalan Somba Opu.
Di sepanjang jalan ini berjejer puluhan toko yang khusus menjual buah tangan
khas Makassar. Namun, jangan pulang tanpa membeli oleh-oleh berikut : Ukiran Toraja, sehelai sutera
tenunan Sengkang, sebungkus Kacang Disko, Kacang Rempah dan Kacang Telur Makassar, sebotol
sirup Markisa, sebungkus Kopi Toraja, sebotol minyak tawon Makassar, atau perhiasan
emas ukiran khas Makassar. Jangan ragu menawar karena ada
banyak toko yang menjual barang yang serupa, sehingga harganya bersaing. So, now you’ve got a lot reasons to visit
Makassar!
Ao Nang yang sepi dengan kehidupan malamnya yang redup membuat kami menjadi sedikit bosan. Kami malahan menjadi semakin penasaran dengan Phuket yang katanya ramai dan hingar bingar. Kami pun memutuskan akan langsung ke Phuket setelah kembali dari Tour Phi Phi Island. Keputusan yang mendadak dan tidak terencana, lagipula rasanya kami telah cukup menikmati Ao Nang dan Krabi.
![]() |
| - View from speed boat to Phi Phi - |
Jadilah pagi itu kami langsung check out dari hotel dan menunggu jemputan dari operator tur Phi-Phi. Harapan kami seperti hari sebelumnya, dijemput dengan minivan baru ber-AC yang bersih. Namun yang datang ternyata tuk-tuk yang penuh penumpang dan sayur-sayuran :( Dari hotel, kami diturunkan di kantor operator tur yang dekat dari dermaga dan berjalan kaki untuk mencapai speed boat kami, Beluga 9.
![]() |
| - Our Speed Boat, Beluga 9 - |
Dan perjalanan panjang hari itu pun dimulai, dengan speed boat yang melaju kencang, kami menuju ke perhentian pertama yaitu Bamboo Island, pulau yang menjadi bagian taman nasional Koh Phi Phi. Dari kejauhan pun pulau ini sudah tampak memukau, pasirnya putih berkilat-kilat, lautnya jernih berwarna hijau biru. Pulau ini rupanya tidak berpenghuni, hanya jadi persinggahan untuk snorkeling, berjemur di pantai yang bersih atau sekedar piknik di hutan yang teduh. Oleh operatur tur, kami disediakan perlengkapan untuk snorkeling dan diberi waktu sekitar 45 menit untuk menikmati Bamboo Island.
![]() |
| - Bamboo Island - |
Puas bermain di Bamboo Island, kami pun beranjak menuju Maya Bay yang menjadi lokasi film Leonardo Di Caprio - The Beach. Untuk mencapainya, kami melalui Pileh Bay yang luar biasa cantik! Berupa laguna dengan karang dangkal dan koral yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari boat. Speed boat kami melambat untuk memberi kesempatan kami menikmati koral yang berwarna-warni.
Maya Bay dipenuhi wisatawan ketika kami tiba di sana. Dari kejauhan pulau kecil tak berpenghuni itu sudah tampak riuh dengan manusia. Kami jadi sedikit tak leluasa mengabadikan keindahan Maya Bay dengan pasir putih dan deretan long tail boatnya yang berwarna-warni. Di sini, kami banyak berjumpa pelancong asal Indonesia yang datang dari Phuket.
![]() |
| - Maya Bay, Koh Phi Phi National Park - |
Maya Bay benar-benar memanjakan mata, bahkan dengan limpahan wisatawan yang datang untuk berkunjung setiap harinya, tempat ini tetap terjaga kebersihan dan kejernihan airnya. Tidak ada sampah yang tertinggal di pantai atau menggenang di lautan sekitar. Ranger, penjaga pantai pun dengan rutin berkeliling pulau dan menyapa wisatawan yang datang sembari mengingatkan untuk berkunjung lagi ke Thailand. Sungguh promosi wisata yang sangat ampuh! Keramahan mereka membuat saya tidak pernah kapok kembali ke Thailand!
Setelah berdiskusi dengan operator tur mengenai keinginan kami langsung ke Phuket tanpa melalui Krabi, tour guide kami menyarankan untuk langsung menumpang ferry boat dari Phi Phi Don Island, pulau terbesar di antara gugusan pulau di Koh Phi Phi National Park. Ferry terakhir menuju Phuket tersedia hingga pukul 14.30, sehingga kami diperkirakan masih memiliki cukup waktu untuk menikmati makan siang dan berkeliling Phi Phi Don sebelum bertolak ke Phuket.
![]() |
| - Phi Phi Don Island - |
Setibanya di Phi Phi Don, kami langsung digiring untuk makan siang seafood prasmanan di sebuah restaurant besar yang menghadap ke pantai. Setelah itu operator memberikan kesempatan kepada peserta tur untuk berkeliling Phi Phi Don sekedar membeli oleh2. Kami langsung mencari agen untuk membeli tiket ferry ke Phuket. Beruntung kami mendapat tiket yang cukup murah seharga 250 BHT untuk sekali perjalanan tujuan Rassada Pier - Phuket menggunakan ferry Chao Koh Group, lebih murah 100 BHT dari tiket yang dijual di Phi Phi Pier. Rassada Pier ini merupakan pelabuhan yang terletak di Phuket Town.
Berhubung masih tersedia cukup waktu sebelum berangkat ke Phuket, saya menyempatkan belanja oleh2 kaos bertuliskan Phi Phi Island dengan gambar shark yang khas seharga 150 BHT. Kaos ini hanya dijual di Phi Phi Don dan tidak tersedia di Krabi ataupun Phuket. Disarankan untuk menawar dan membandingkan harga sebelum membeli di kios2 souvenir yang tersebar di sepanjang Phi Phi Don. Jangan langsung memutuskan membeli di kios2 yang terletak di bagian depan pulau dengan harga yang mahal, karena kalau sedikit bersabar dan berkeliling, di bagian belakang pulau ataupun kios2 dekat Pier memberikan harga yang bisa lebih murah 50 - 100 BHT :)
be continued to : Ferry Ride Phi Phi Island to Rassada Pier Phuket
Saya baru selesai menuntaskan breakfast ketika Rung dari Siam Andaman Group menjemput kami di hotel. Agak terlambat setengah jam dari yang dijadwalkan. Hm, rupanya kebiasaan ngaret warga Malay sedikit menular ke warga selatan Thailand. Rung berkilah kalau kami adalah penumpang terakhir yang dijemput. Tapi tak apalah, sepasang kursi di bagian tengah minivan baru ber-AC yang menjemput kami telah tersedia. Bersama Rung, guide kami yang jenaka, dan 9 orang wisatawan lain di minivan, kami siap menjelajah Pha Nga.
Dari Ao Nang, kami berkendara sekitar 45 menit menuju dermaga longtail boat, sejenis kapal tradisional Thailand dengan bagian ekor yang memanjang dihiasi pita. Rupanya ada minivan lagi yang bergabung dengan kami hari itu sehingga total sekitar 20 orang dalam boat. Menjelang keberangkatan, Rung sibuk membagi2kan kapas penutup telinga kepada kami. Suara mesin boat yang menderu cukup memekakkan telinga.
![]() |
| - Longtail boat vs Minivan - |
Destinasi pertama kami tentu saja Pha Nga Bay, lokasi syuting film James Bond - The Man with The Golden Gun yang belum pernah saya nonton sebelumnya. Namun, Rung telah cukup banyak bercerita sekilas mengenai film ini sejak di minivan tadi. Lokasi ini identik dengan batuan kapur berbentuk paku yang berdiri tegak di tengah2 lautan, tempat syuting adegan kejar2an James Bond menggunakan speed boat. Pulau kecil di dekat Pha Nga Bay bernama Koh Ping Gan, hanya terdiri perbukitan dan gua kapur, serta sedikit tanah datar yang dipenuhi penjual souvenir. Kebanyakan souvenir yang dijual berupa aksesoris yang terbuat dari kerang, mutiara imitasi atau kaos 'I Love Krabi'. Namun, Rung telah memperingatkan bahwa harga souvenir2 ini jauh lebih mahal daripada barang serupa yang dijual di Ao Nang atau Krabi Town.
![]() |
| - Pha Nga Bay, Krabi - |
Puas berfoto dan menikmati Pha Nga Bay yang cukup riuh dengan wisatawan, longtail boat kami beranjak menuju hutan mangrove untuk sightseeing dan canoeing. Longtail boat kemudian ditambatkan pada sebuah kapal terapung. Di sini kami disambut dengan handuk dingin dan disuguhi sirup dingin, slurruuup.... Wisatawan yang memilih paket canoeing segera bersiap dengan life jacket untuk menyusuri hutan mangrove dan menikmati keindahan gua kapur sambil berkano. Sedangkan kami yang hanya memilih paket sightseeing bebas menikmati pemandangan dari atap kapal terapung tersebut.

Namun, paket sightseeing sudah cukup memuaskan hobi fotografi saya. Lokasi kapal terapung yang bersandar dekat dengan hutan mangrove tetap memungkinkan saya mengeksplorasi keindahan mangrove tanpa perlu berkano.
![]() |
| - Koh Panyee, Krabi - |
Siang menjelang dan kami digiring oleh Rung menuju Koh Panyee atau terkenal dengan muslim floating village. Konon perkampungan terapung ini telah ada sejak ratusan tahun lalu sejak jaman nenek moyang orang Thailand dan dihuni secara turun temurun oleh muslim2 Thailand hingga saat ini. Perkampungan ini luasnya mungkin hanya sepantaran Pulau Tidung, bisa dikelilingi hanya dengan berjalan kaki. Bagian depan pulau merupakan restaurant tempat kami menikmati makan siang prasmanan full seafood! Kami disuguhi hidangan seafood yang tidak habis2nya, buah2an tropis pun disajikan untuk dinikmati sepuasnya. Belum terhitung minuman dingin, kopi dan teh yang dituangkan oleh pelayan yang berkeliling menawarkan minuman gratis karena termasuk dalam paket tour. Bagian belakang pulau terdapat lapak souvenir dengan harga yang lebih murah dibandingkan di Koh Ping Gan. Bukan hanya souvenir saja yang menjadi komoditi jual di pulau ini, cemilan2 asam khas Thai dan bahkan ikan yang dikeringkan pun bisa dibeli di sini!
![]() |
| - Sleeping Budha, Suwankhukha Temple - (photo courtesy of R.C. Permana) |
Tujuan berikutnya adalah Suwankhuha Temple, merupakan gua tempat berdoa yang di dalamnya terdapat patung Budha emas raksasa. Terkenal juga sebagai Monkey Cave, karena di bagian depan gua dijaga oleh banyak monyet2. Namun, monyet2 ini tidak mengganggu pengunjung dan tidak nakal seperti monyet2 di Ubud Forest, mereka bahkan dengan senang hati duduk2 di pangkuan orang yang memberinya makanan.
![]() |
| - Suwankhukha Temple a.k.a Monkey Cave - |
Suwankhukha Temple tidak hanya sebagai tempat untuk berdoa, bahkan ada area khusus untuk meramal nasib! Patung Budha berbagai ukuran dan posisi terdapat di setiap sudutnya. Untuk berfoto dengan latar belakang Budha, kita diminta berpakaian yang pantas (pundak tertutup dan celana/rok yang melebihi lutut), selain itu juga dilarang menyentuh patung Budha dan mengganggu biksu yang sedang berdoa. Beberapa wisatawan yang cukup bernyali diajak naik ke tempat berdoa yang terdapat di bagian atas gua, saya sempat naik sesaat dan melongok ke bawah, walaupun berpengaman, namun cukup tinggi dan menakutkan juga hehehe... Tapi dari ketinggian itu kita jadi lebih leluasa menikmati stalagmit dan stalaktit yang memukau :)
Sore menjelang dan beberapa orang di minivan kami mulai tertidur kelelahan. Namun masih satu tempat lagi untuk dikunjungi, yaitu air terjun. Saya tidak terlalu bersemangat karena yang seperti ini banyak di Indonesia, lebih2 di kampung saya terdapat Air Terjun Takapala dengan tangga seribunya.

Benar saja, tempat yang dikatakan air terjun hanya berupa kolam kecil berair jernih dengan aliran air seperti pancuran desa. Segitu saja bule2 sudah semangat untuk turun dan berenang -__- Tapi lumayanlah untuk sekedar melepas lelah sambil bermain dengan airnya yang dingin. Rung terheran2, "I can help you with the camera if you're worry it's getting wet", ucapnya menyayangkan saya tidak ikut berenang. Saya nyengir2 saja sambil berucap, "I have many like this in my country, a bigger one located near my hometown."diikuti pandangan kagum bule2 sekolam, cieee....
Perjalanan kami hari itu akhirnya berakhir di kolam pancuran, eh kolam air terjun :) Satu persatu peserta tour diantarkan kembali ke penginapan masing2. Saya sendiri minta diturunkan di pantai Ao Nang sambil menunggu senja untuk mengabadikan sunset :)
be continued to : A Journey to Heaven - Koh Phi Phi National Park
Here's some captures taken in Festival Wayang Indonesia 2011
It's one of traditional Cirebon dance named Tari Samba


The actual dance was done by two ladies,but this lady in red is my favorite
Beautiful lady is beautifully caught by the lens!
Thanks to my fellow bloggers : Asruldin Azis & Mila Said
can't wait for our next kopdar, guys :)
Hari kedua di Ao Nang saya habiskan dengan istirahat dan berjalan2 sembari menunggu teman seperjalanan saya yang akan menyusul langsung dari Singapura. Rencananya kami akan menggunakan 3 hari yang tersisa di Krabi untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata. Berhubung hotel tidak menyediakan breakfast, tiap pagi sudah menjadi rutinitas saya menyeberang ke 7 eleven untuk membeli sarapan berupa nasi goreng atau mie seharga 26 Baht dan segelas kopi hangat seharga 14 Baht. Cukup mahal untuk sebuah sarapan instan :(
Berhubung budget dan waktu yang terbatas, saya pun harus menentukan tempat2 yang ingin saya kunjungi di Krabi. Phi Phi Island dan Maya Bay menjadi opsi wajib di antara pilihan lainnya, yaitu Pha Nga dan Tub Island. Maya Bay jelas menjadi destinasi utama. Saya penasaran ingin membuktikan keindahan alam yang menjadi lokasi utama film The Beach yang dibintangi Leonardo Di Caprio. Sedangkan Pha Nga merupakan lokasi salah satu film James Bond - The Man With The Golden Gun yang tayang sebelum saya lahir, jadi saya tidak terlalu penasaran. Namun, teman seperjalanan saya lebih antusias ke Pha Nga daripada ke Phi Phi yang ramai. Sedangkan Tub Island sendiri merupakan pilihan kami berdua untuk leha-leha menghabiskan sisa waktu. Pulau ini kabarnya memiliki pemandangan yang lebih indah dan lebih private daripada pulau lain yang turistik.
Setelah menghitung2, ternyata budget yang harus dikeluarkan untuk ngeteng lebih mahal daripada ikut tour. Karena beberapa lokasi tersebut cukup jauh dan membutuhkan lebih dari satu alat transportasi untuk mencapainya. Jadilah setelah hunting beberapa agen tour di sepanjang Ao Nang, pilihan kami jatuh pada Ao Nang Photo Travel Agent yang berlokasi di 205, Moo 2 Ao Nang, Muang District. Alasannya jelas, harga yang ditawarkan miring sekali dibandingkan agen lain.
Untuk ketiga lokasi yang ingin kami kunjungi, kami diberi tawaran 3 jenis tour. Yang pertama tentu saja tour Phi Phi Island seharga 900 Baht. Harga yang cukup masuk akal mengingat penawaran di brosur2 mulai dari 1200 Baht hingga 1800 Baht. Tour kedua adalah James Bond Tour ke Pha Nga seharga 800 Baht, dari harga semula 1000 Baht. Sedangkan untuk ke Tub Island, kami disarankan untuk mengambil 4 Islands Tour seharga 1200 baht, namun diskon sampai 800 Baht
Untuk Phi Phi Tour seharga 900 Baht, fasilitas yang ditawarkan yaitu : antar-jemput dari hotel, speed boat dari Ao Nang ke 3 destinasi pulau (Bamboo Island, Phi Phi Don Island dan Maya Bay), snorkeling di 2 spot lengkap dengan alatnya, asuransi, guide, air mineral dingin unlimited dan makan siang prasmanan. Kalau budget terbatas, ada alternatif lain menuju Phi Phi Don yaitu dengan long tail boat, harga yang ditawarkan dari Ao Nang mulai 400 Baht one way atau 600 Baht return. Tapi waktu yang diperlukan 2x lebih lama dan trip ini bukan merupakan perjalanan ke beberapa tempat. Hanya menuju Phi Phi Don saja, dari pulau utama ini barulah kita bisa mencari-cari harga tour yang lebih murah.
Untuk paket kedua, James Bond Tour seharga 800 Baht aktivitas yang ditawarkan jauh lebih beragam. Ada 2 macam aktivitas dengan harga berbeda yang bisa dipilih. Pertama James Bond Sightseeing Program seharga 800 Baht dan Canoeing Program seharga 1000 Baht. Fasilitasnya meliputi : antar-jemput dari hotel, long tail boat ke Pha Nga, berkunjung ke Monkey Cave, makan siang dan berbelanja di floating village (muslim village) dan mengunjungi air terjun. Untuk yang mengambil Canoeing Program, akan ada tambahan berkano mengelilingi gua. Karena kami berdua orientasinya hunting foto dan khawatir kamera akan basah kalau ikut berkano, kami memilih paket Sightseeing saja.
-Pha Nga, The James Bond Island-
Sedangkan Paket 4 Island untuk ke Tub Island seharga 800 Baht tidak jadi kami ambil karena hari ketiga kami hendak overland ke Phuket. Sekedar informasi untuk paket ini, fasilitasnya antara lain : antar-jemput dari hotel, mengunjungi 4 pulau menggunakan speed boat (Tub Island, Chicken Island, Poda Island dan Phra Nang Cave), snorkeling lengkap dengan alat, asuransi, air mineral dingin unlimited dan makan siang prasmanan.Ada 1 jenis paket wisata lagi yang populer dari Krabi, yaitu Hong Island tour seharga 900 Baht dengan destinasi Hong Island, Lading Island (Paradise Island), Pakbia Island dan Rai Island. Aktivitas yang bisa dilakukan antara lain berenang, snorkeling dan sightseeing. Fasilitas yang ditawarkan sama dengan tour lainnya.
Beres dengan urusan tour, hari kedua kami hanya kuliner touring dengan makan siang di Sofitel Hotel Krabi yang mewah dan indah (karena gak sanggup nginap di sana, numpang makan siang juga gak apa2, hihihi....) dan malamnya menikmati massage khas Thailand yang banyak terdapat di Ao Nang. Harga massage beragam, mulai dari 50 Baht sampai body massage 250 Baht. Kami beruntung karena setibanya di Phuket, harga hand massage-nya saja mencapai 150 Baht, apalagi body massage!
Hari kedua di Ao Nang begitu relaxing dan menyenangkan. Kami pun bersiap menikmati petualangan hari berikutnya : Pha Nga and Phi Phi Island here we come.....:)
be continued to Pha Nga Province - The James Bond Island Tour
Filed under:
Ao Nang,
Backpacking,
James Bond,
Krabi,
Pha Nga,
Phi Phi Island,
Thailand
Links to this post
Subscribe to:
Posts (Atom)










































