Happy blessing day
Here's on my birthday
is the day when You were smiling to give a life
is the day when You give more time
And here I'm...
Putting my soul on Your hands
Lying my head on Your arms
Asking for shelter on Your shoulders

Thanks for another November 19
that You gives me today
for every step that You let me to earn
and every love that You keep for me around
I'm truly grateful
I'm now fully blessed
Because I have You in my heart
(^^)v
I got a half-pink-bunny doll from my parents....!!!
A big one sent to my room directly from Makassar
What a suprise....!
What can I say about this early birthday present?
huuuuhmmmm.............
no matter how far I've gone, no matter how much that I've done
I'm still my parent's little girl
I still deserve a pink bunny on my twenty-something's birthday
Wuaaah........I miss Babe, Mams & Cha
Wish I could blow my candle with three of you on my twenty-something step.....
It's as beautiful as sunset that I took in Kuta Bali, right?!
Entah, ini cerpen keberapa yang akhirnya beruntung terpublikasikan. Tetapi yang pasti, cerpen ini merupakan salah satu karya favorit saya setelah cerpen Aulia.
Menulis cerita yang berlatar lokasi yang saya kenali secara pribadi, merupakan suatu kesenangan tersendiri karena saya bisa membangun penokohan secara lugas dengan latar yang kuat dan mendetail.
Cerpen ‘Yang Tak Terlupakan’ ini mengambil latar SMA berasrama di Desa Parigi, Tinggimoncong-Malino. Dusun kecil yang terletak 80 km dari Makassar, yang merupakan sekolah menengah tempat saya menuntut ilmu beberapa tahun lalu.
Ceritanya memang bukan tentang kehidupan asrama dan siswa-siswanya, tetapi lebih kepada flashback si tokoh pada kenangan lamanya di Tinggimoncong pada suatu sesi reuni yang kemudian menjadi langkah awal kehidupan yang dijalaninya beberapa tahun kemudian.
Walaupun hanya keindahan Bawakareng dan hawa dingin Tinggimoncong yang bisa tergambarkan dengan baik melalui deretan kata-kata, tetapi saya cukup puas dengan setting Ruang Saji, selasar ataupun Taman Belakang Aspura (yang keindahannya hanya bisa saya nikmati dari cerita senior-senior saya. Ketika jamannya saya, taman itu sudah musnah tak berbentuk he9x….) yang menjadi latar penguat cerita.
And still….it’s all about love. So, enjoy it!
Published on : Majalah Chic edisi 42, terbit 29 Juli – 12 Agustus 2009
Alternatif berwisata murah meriah di Bali adalah dengan menggunakan shuttle bus. Ini yang saya dan kebanyakan turis asing yang berasal dari Barat lakukan. Turis asal Asia (terutama Jepang dan Korea) lebih memilih menggunakan private tour. Layanan ini tersedia di hampir semua hotel model backpacker. Biasanya akan dipajang pengumuman di resepsionis. Waktu keberangkatan dan tujuannya pun tergantung banyaknya orang yang sepakat. Tapi jangan khawatir, karena setiap hari selalu ada keberangkatan, hanya tujuannya saja yang tidak terprediksi, tergantung peminat.
Saya beruntung karena waktu itu kurang satu orang yang diperlukan untuk ke Ubud. Jadilah saya mendaftar dengan biaya 60rb. Layanan shuttle ini berupa bus atau mobil tua mirip L-300 tanpa AC yang menjemput pesertanya dari satu hotel ke hotel lainnya. Kebetulan waktu itu saya dijemput paling terakhir dan saya terlambat bangun pula! Ha9x…jadilah satu mobil berisi bule2 (saya satu2nya turis lokal dalam rombongan tersebut) terpaksa menunggu saya, he9x….
Ikut tur model beginian harus tahan banting. Pertama, karena setelah dijemput, kita harus rela menjemput rombongan tur lainnya satu demi satu. Jadi, kita tidak bisa mengatur waktu secara tepat, apalagi kalo ada anggota yang hobi telat kayak saya he9x… Kedua, kondisi mobil pas2an, tanpa AC, hobi ngebut (gak pake asuransi) dan harus rela bertumpukan dengan backpack bule2 yang segede gajah. Ketiga, tempat duduk tidak bisa di-booking, siapa cepat dia dapat.
Jadilah waktu itu saya harus rela duduk paling belakang, berdesakan dengan 2 bule dan backpack mereka. Awalnya saya berpikir kami semobil akan menuju ke tujuan yang sama, yaitu tempat2 wisata yang ada di Ubud. Ternyataaaaa……..shuttle ini tidak lebih dari angkutan antar daerah. Hanya nge-drop di satu tempat di Ubud dan tidak bertanggung jawab lagi dengan kami semua.
Dua bule cakep asal Inggris yang tumpuk2an dengan saya di kursi belakang malah mengaku kalau mereka sudah cabut dari hotel di Kuta dan bermaksud untuk menginap di Ubud selama beberapa hari. Wuaaaah….padahal saya kan nyari teman pulang, hiks. Untungnya shuttle ini juga melayani tujuan ke Kuta kembali pada jam2 tertentu (3 dan 6 sore). Saya akan dijemput di pangkalan mereka (depan Monkey Forest Ubud) jam 2.45 dengan biaya 60rb.
Jadilah, daripada terlantar gak jelas di Ubud, saya memilih untuk menguntit 2 teman baru saya asal Manchester : Matthew dan Alex. Kami bertiga kemudian berjalan kaki menyusuri jalan2 di Ubud dengan modal buku Lonely Planet milik Alex untuk mencari penginapan backpacker. Sekitar 1 jam-an berjalan kaki sampai keringatan, kami akhirnya menemukan penginapan murah-meriah yang nyaman.
Alex memilih bersenang2 dengan memberi makan monyet2, sedangkan saya dan Matt memilih berfoto2.
Ada pula sebuah kolam yang di dalamnya terdapat banyak uang koin. Konon, dengan melemparkan koin ke dalamnya disertai make a wish, keinginan kita bisa terkabul.
Selanjutnya kami makan siang di warung yang berada di sekitar Monkey Forest. Alex dan Matt memilih menu nasi campur dengan sate pork dan ayam bakar seharga 20rb/porsi, sedangkan saya cukup puas dengan Big-Mac McD yang saya beli semalam.
Perjalanan ala backpacker ini berlanjut ke Pura Ubud yang terletak di samping pasar Ubud. Berhubung saya lagi berwisata dengan 2 orang backpackers, jadilah semua perjalanan ditempuh dengan kaki he9x…. Jarak dari Monkey Forest ke Pura tersebut 2 kilo men!!! Tapi berhubung menjalaninya dengan 2 cowok cakep, cuma serasa 500 meter he9x.
Ubud terkenal dengan kerajinan tangan seperti kalung2 dan ikat pinggang manik2. Tapi berhubung saya lagi jaim dengan 2 teman baru saya yang hobinya hanya foto2, jadilah keinginan belanja saya pendam dalam2 he9x…. Lagian di tempat2 wisata lain (Tanah Lot, Sukawati) juga dijual barang yang sama. Harga tergantung kemampuan nawar sampai mampus he9x…
Perjalanan yang melelahkan dan menguras tenaga (yup….karena saya harus jalan balik 2 kilo lagi ke tempat mangkal shuttle di Monkey Forest). Tapiiii…..setelah mengucap salam perpisahan kepada 2 teman baru saya yang baik hati itu, saya diam2 naik ojek men!!! He9x…di Ubud, hanya terdapat kendaraan pribadi atau motor, karena kebanyakan yang berdiam di Ubud adalah wisatawan asing yang hobinya jalan kaki. Dengan ongkos 15rb (hasil nawar mpe teriak2), saya diantarkan ke tempat shuttle.
Shuttle menjemput tepat waktu dan saya tiba dengan selamat sampai ke Kuta, tapi tepar bersama semobil bule2 keringatan yang juga baru habis meng-eksplore Ubud he9x….
Sekedar infomasi, shuttle ini melayani ke berbagai tujuan di Bali dengan harga terjangkau walaupun fasilitasnya minim. Misalnya untuk ke Sanur, hanya dikenai biaya 40rb. Cocok sekali untuk para backpackers yang hobi bertualang, punya waktu menetap yang cukup lama di Bali dan hobi nguntit bule2 keren kayak saya he9x….
^^
"Why do You create us differently if You only want to be worshipped in one way?"
Annisa loves both God and Cina
God loves both Cina and Annisa
But Cina and Annisa can't love each other
Because they call God by different names

"Kenapa Allah nyiptain kita beda-beda, kalo Allah cuma ingin disembah dengan satu cara?"
"Makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu.."
Percakapan tersebut adalah satu dari banyak dialog perdebatan agama yang terjadi antara Cina dan Annisa dalam film perdana Sammaria Simanjuntak yang diberi judul cin(T)a.
Karakter Cina sebagai seorang pemuda Kristen keturunan Tionghua dan Annisa sebagai seorang perempuan Jawa beragama Islam digambarkan dengan baik oleh Sammaria, bukan hanya dengan nama yang secara jelas menunjukkan ras dan juga agama yang dipeluk mereka, namun kontras keduanya juga disuguhkan oleh stereotipikal dan anti-stereotipikalnya masing-masing.
Tidak sedikit dari masyarakat kita yang dengan serta merta menolak hubungan cinta beda agama baik dari status pacaran maupun hingga jenjang pernikahan. Film ini dibuat dengan maksud sebagai mediator juga sebagai aksi protes terhadap kekolotan toleransi agama tersebut.
Ramadhan kali ini ada yang beda, saya udah gak sendiri he9x…. Seru juga Ramadhan kali ini dengan Radit dan keluarganya. Padahal baru berjalan tiga hari, tapi saya dan Bunda-panggilan saya untuk ibunya Radit-sudah banyak kegiatan. Sehari sebelum puasa, saya, Bunda dan Milly belanja bareng bertiga kebutuhan untuk Ramadhan. Karena walaupun papanya Radit, Milly dan Radit sendiri seorang nasrani, tetapi Bunda tetap menjalankan puasa. Jadi di keluarga mereka, setiap tahunnya selalu ada perayaan Lebaran dan juga Natal. 
Malamnya, sepulang kerja Radit menemani saya tarawih di masjid dekat rumahnya. Kasihan juga sih, karena malamnya dia juga on call di ICU. Waktu yang harusnya dia gunakan untuk istirahat, malah dipakai menemani saya tarawih. Tapi seru juga, dia ngamatin orang2 yang shalat dari parkiran trus nunggu di mobil sampai ketiduran. Padahal sebenarnya dia juga tahu caranya shalat karena waktu kecil Radit sering ikutan Bunda shalat. Tapi di usia yang sama, dia juga sudah punya kewajiban ke sekolah minggu.
Mendengarkan cerita Radit kecil, saya jadi banyak kepikiran. Bagaimana nanti kalau seandainya kami jadi ke level yang lebih serius, kayaknya anak kami bakal menghadapi dilema yang sama. Saya bakal mengulang sejarah Radit kecil. Bakal kejadian, kami merayakan hari besar keagamaan lebih sering daripada keluarga2 lain. Suatu hari saya bakal mengajarkan anak kami membaca Al-Quran, namun di hari yang lain si kecil akan ikut Radit kebaktian di gereja.
Dari cerita Bunda, Radit dan Milly juga dulu begitu. Padahal mereka lahir dengan ritual pembabtisan. Namun, sehari-harinya mereka dihadapkan pada dua ritual agama yang berbeda.
Kalau hanya sedang berdua saja dengan Bunda, saya sering membahas masalah ini. Kemungkinan2 yang bakal terjadi kalau memang seandainya akan terjadi pernikahan beda agama. Bunda menanggapinya dengan santai, maklum beliau sudah menjalaninya selama lebih dari 25 tahun. Tetapi saya menangkap gelagat, kalau Bunda tidak ingin ada Radit dan Milly kecil lainnya dalam keluarga.
Saya bohong kalau perbedaan ini tidak mengganggu kami. Walaupun saya senang melihat dia menemani saya tarawih, tetapi selalu ada keinginan suatu hari kami bisa tarawih berdua. Namun, saya juga harus mengakui bahwa wajah Radit yang paling terindah yang saya nikmati adalah saat2 dia selesai ibadah di gereja. Ada ketentraman di wajahnya, damai yang membuat saya bangga memilikinya sebagai seorang nasrani yang taat.
Entah takdir seperti apa yang akan menghampiri kami berdua, entah bagaimana pula jalan keluar yang akan diberikan Tuhan untuk kami. Tapi yang saya tahu, saya tidak akan pernah bisa menemukan Radit lain di luar sana yang akan memberikan kebahagiaan yang sama dengan yang sudah Radit berikan untuk saya.
Akh…semoga Ramadhan kali ini bisa memberikan kami pencerahan dan jalan keluar untuk semuanya ^^
Ide travelling around and alone selalu jadi impian saya sejak lama. Ketika kemudian saya berkesempatan hijrah ke Malang, saya mewujudkan impian itu setiap kali ada kesempatan. Travelling dari satu kota ke kota lainnya sendiri dan bermodal numpang tidur di kostan teman. Biayanya cukup ekonomis karena saya kebanyakan menggunakan jasa kereta api yang hemat dan bisa menjangkau berbagai kota di pulau Jawa.
Kali ini, saya memberanikan diri menyebrang pulau ke Bali, yang jaman dahulu belum berani saya lirik untuk travelling sendiri. Saya pernah ke sana, tetapi dengan keluarga. Alasannya jelas, Bali terkenal sebagai daerah wisata yang bebas secara pergaulan, mahal dan tidak cukup aman untuk dikunjungi sendiri.
Tetapi ternyata Bali berbeda dengan yang dahulu dikenal. Bali sangat cocok untuk para backpackers karena penginapannya keren-keren dan murah meriah. Tiket pesawat pun cukup terjangkau karena banyak penerbangan dari Jakarta ke Bali sehingga saya memiliki banyak pilihan harga dan waktu terbang.
Selama di Bali, saya berpindah penginapan sampai 2 kali, karena banyaknya pilihan. Padahal saat itu sedang High season. Penginapan pertama, Ayu Beach Inn yang berlokasi di Poppies 1 saya temukan melalui referansi buku ini :
Buku ini banyak membantu, walaupun sebagian besar penginapan yang tercantum di dalamnya merupakan penginapan backpackers yang tidak bisa di-booking, first come first serve. Namun, paling tidak saya sudah bisa memperkirakan biaya akomodasi.
Setelah 3 hari bercokol di Poppies, saya pindah ke penginapan yang lebih bagus di daerah jalan raya kuta. Hotel Puri Asih dengan rate 400rb/night yang saya share berdua, jatuhnya lebih murah daripada Ayu Beach Inn yang mematok harga 300rb/night dengan fasilitas yang serba nge-pas.
Ayu Beach Inn berlokasi di Poppies 1, hanya berjarak sekitar 200 meter dari Pantai Kuta. Poppies 1 merupakan lokasi yang sangat bagus karena dekat dari McD, banyak warnet dan mini-market bertebaran. Penginapan ini memiliki rate 300rb/night (saat high season) dengan fasilitas breakfast (roti+telur dengan teh atau kopi), AC, kamar mandi dalam dengan shower air panas-dingin, kulkas dan televisi. Namun, saya sedikit kecewa dengan kondisi kamar dan kamar mandi yang tidak terlalu bersih dan televisi yang tidak bisa digunakan (karena antena-nya tidak berfungsi). Belum lagi suara berisik dari tamu2 hotel (yang sebagian besar orang asing a.k.a bule) yang hobi berpesta sampai larut di kolam renang atau di teras kamar.
Ayu Beach Inn
Hingga pernah suatu pagi ketika saya berenang di kolam renang hotel (tempat ini memiliki 2 kolam renang yang bersih dengan air penyemprot yang bisa dipakai untuk memijat), saya mendapati 2 orang bule masih tertidur di kursi pantai yang terletak di samping kolam renang.
double room-Hotel Puri Asih
Sedangkan Hotel Puri Asih saya dapatkan setelah sekitar 2 jam-an jalan kaki berkeliling dari poppies 1, poppies 2 hingga tembus ke jalan raya kuta. Hotel ini highly recommended. Selain kamar dan kamar mandinya bersih, breakfast-nya pun enak dan bervariasi. Hotel ini memiliki sebuah kolam renang besar dan bersih. Fasilitas kamarnya antara lain : AC, tv-kabel, kulkas dan kamar mandi dengan shower air panas-dingin. Apalagi saya memperoleh kamar tepat di depan kolam renang. Secara lokasi, hotel ini dekat dengan Kuta Square. Jadi, kalau di Poppies saya mengandalkan McD sebagai makanan pokok yang halal (he9x….), di Puri Asih saya mengandalkan KFC yang terletak di Kuta Square.
view from my room@Hotel Puri Asih
Selain kedua penginapan di atas, saya sempat juga berkeliling ke beberapa penginapan menengah yang tampilannya bersih dan mewah, tetapi harganya murah meriah (bahkan tidak men-charge saat High season) dan dapat di-booking melalui telepon. Rate-nya berkisar 250rb-600rb/night, maka lebih murah apabila di-share ramai2 karena kebanyakan hotel di Bali tidak melarang kamar di-share melebihi kapasitas he9x…. Berikut ini bisa dicoba :
1. Hotel Puri Asih (Jalan Raya Kuta) : 0361-755330
2. La Walon (Poppies 1) : 0361-757234/765896
3. Fat Yogi (Poppies 1) : 0361-751665
4. Masa Inn (Poppies 1) : 0361-758507
5. Satriya Cottages (Poppies 2) : 0361-758331
6. BaliSandy Cottages (Poppies 2) : 0361-753344
Rate hotel-hotel tersebut memang lebih sedikit mahal daripada penginapan backpackers yang banyak bertebaran di Bali dengan rate yang lebih murah. Tetapi penginapan backpackers tersebut kebanyakan smells bad dan tidak bersih. But, you can share, buddies! It suits for family, those six places is worth. You won’t regret it! Happy holiday!
Saya perempuan. Sudah dua puluh tahun lebih jadi seorang perempuan, tapi ternyata gaya saya belum perempuan banget. Paling nggak, itu komentar si pacar yang langsung gemas ingin mempermak saya. Radit yang sudah jadi sahabat saya sejak lama (bahkan sebelum kami pacaran), sudah sedari dulu gemas melihat gaya saya berpakaian. Kemana-mana jeans dan kemeja berkerah, kalau nggak, kaos polo berkerah. Padahal maksud saya berpakaian begitu biar ngirit he9x…karena setelah jeans dan kemeja itu juga jadi andalan kalau ke kampus. Jadi kalau belanja pakaian, gak perlu bertele-tele he9x…
Pas pacaran dengan Radit, dia langsung mengajukan permintaan ke saya untuk memanjangkan rambut. Sederhana, tapi sebenarnya syarat dia itu cukup berat untuk saya, karena sejak bocah rambut saya gak pernah panjang. Paling panjang sebahu. Trus, sekarang diminta memanjangkan rambut paling nggak sepunggung. OMG…waktu dia bilang gitu, rasanya saya mo loncat dari Monas.
Jadilah sejak Maret saya jadi rajin mengurus rambut, mulai dari rajin creambath sampai belajar pakai tonik setiap hari. Huu….ritual centil! Gara2 cream creambath, ritual keramas yang normalnya hanya 15 menitan, molor jadi setengah jam karena si cream gak mo berhenti berbusa, huff…
Penderitaan kedua, saya mulai belajar pakai gaun dan kemeja model cewek. Gara2nya Radit selalu terima undangan formal dari rekan sejawatnya, entah itu acara kawinan atau ngumpul biasa. Dan Radit paling malas datang kalau gak ditemani (dulu tugasnya Milly adiknya Radit yang temenin, sekarang diwariskan ke saya). Jadilah saya setengah mampus membujuk si Keke untuk menemani saya mencari gaun selutut lengkap dengan high heels (Ooooh…inang, mampus gw!). Keke ini sahabat saya di kampus yang sudah khatam urusan gaun, soalnya dia punya setumpuk gaun untuk ke gereja (walaupun blom sempat hunting mpe sekarang yak, hiks…)
Duar….kemarin malam itu, gala pertama saya ke acara resmi mendampingi Radit. Seorang rekannya, yang juga seorang dokter, menikah. Awkward banget karena saya paling malaaaaaas ke acara nikahan. Satu-satunya acara pernikahan yang saya hadiri dengan ikhlas adalah pernikahan sepupu saya tahun lalu. Karena acaranya dadakan, jadilah gaun si Milly (adiknya Radit) saya samber buat malam itu, lengkap dengan sepatunya.
Hiks…kalau melihat isi lemarinya Milly, seperti ngeliat isi butik. Isinya gaun semua, rata2 bermerek lagi. Mulai dari Zara, rancangan desainer sampai yang paling tokcer black dress Chanel warisan ibunya. Katanya gaun hitam itu hampir seumuran sama Milly, sudah lebih 15 tahun tapi tampilannya seperti gaun yang baru dibeli kemarin. Masih mulus mengkilat dan modelnya yang klasik gak lekang waktu.
Milly termasuk maniak dress dan baju feminim lainnya. Bukan hanya ke gereja saja, jalan di Mal pun setia dengan gaun. Sebenarnya saya berniat menampilkan foto isi lemari dan gaun-gaunnya Milly, he9x….tapi empunya keberatan (termasuk cocktail dress hitam yang dipinjamkan Milly ke saya malam itu, nanti yak guys kalau saya sudah punya gaun sendiri he9x…).
Lanjuuuuut…….heels! OMG…yang satu ini lebih parah lagi. Saya sampai harus berlatih jalan untuk memakainya. Sepatu saya memang setumpuk, tapiiii….flat semua, ada yang berhak pun hanya kitten heels. Kemarin itu saya pakai heelsnya si Milly merek Guess yang tingginya 7 cm. Katanya itu belum seberapa, Milly masih punya heels Nine West 12 cm. OMG…OMG…gimana makenya?
Moral of the story…jadi perempuan itu gak gampang gals! Ribet dan butuh modal. Entahlah, mungkin karena kebetulan perempuan yang saya kenal, Milly, termasuk anak jetset-nya Jakarta, jadi saya langsung minder sendiri liat koleksi pakaiannya. Karena seingat saya, sepupu saya Ira yang sudah bekerja pun, koleksi pakaian dan sepatunya masih kalah dengan Milly yang baru seusia adik kandung saya.
Tapi thanks to Milly, koleksi pakaian, sepatu dan kosmetiknya bikin saya nyadar, kalau saya termasuk telat untuk mulai jadi ‘perempuan’. Tapi gak apalah, telat daripada gak sama sekali. Thanks juga tuk Radit yang selalu meng-encourage saya menjadi lebih feminim.
Untuk semua laki-laki di seluruh penjuru dunia, being beauty is not that easy. It’s easier mengganti ban mobil sendiri atau ngangkat air ngisi penampungan berember-ember (believe me, I’ve done those!) daripada pakai heels 7 cm atau manjangin rambut sampai berbulan-bulan. it’s more than just an effort, it's deeper than that.
Dan untuk semua perempuan anti feminis yang selalu berpikir kalau perempuan yang berdandan itu tidak berotak. You’re absolutely wrong, ladies! Being beauty need more than a brain, you should have a talent and good taste.
Lagipula, siapa bilang berdandan itu hanya untuk menyenangkan orang lain (baca: laki-laki)? Berpakaian dengan pantas dan cantik adalah bentuk apresiasi terhadap diri sendiri, it’s a personal pride. I know, inner beauty is always important. But, appearance is the first impression. It’s not always about man, dalam banyak hal, bukankah lebih baik apabila kecantikan luar dan dalam dapat seiring sejalan?
He9x…..be grateful being a woman. It’s not easy, but it’s a gift!







