A Journey to Heaven - Koh Phi Phi National Park



Ao Nang yang sepi dengan kehidupan malamnya yang redup membuat kami menjadi sedikit bosan. Kami malahan menjadi semakin penasaran dengan Phuket yang katanya ramai dan hingar bingar. Kami pun memutuskan akan langsung ke Phuket setelah kembali dari Tour Phi Phi Island. Keputusan yang mendadak dan tidak terencana, lagipula rasanya kami telah cukup menikmati Ao Nang dan Krabi.

View from speed boat to Phi Phi -

Jadilah pagi itu kami langsung check out dari hotel dan menunggu jemputan dari operator tur Phi-Phi. Harapan kami seperti hari sebelumnya, dijemput dengan minivan baru ber-AC yang bersih. Namun yang datang ternyata tuk-tuk yang penuh penumpang dan sayur-sayuran :( Dari hotel, kami diturunkan di kantor operator tur yang dekat dari dermaga dan berjalan kaki untuk mencapai speed boat kami,  Beluga 9.

Our Speed Boat, Beluga 9 -

Dan perjalanan panjang hari itu pun dimulai, dengan speed boat yang melaju kencang, kami menuju ke perhentian pertama yaitu Bamboo Island, pulau yang menjadi bagian taman nasional Koh Phi Phi. Dari kejauhan pun pulau ini sudah tampak memukau, pasirnya putih berkilat-kilat, lautnya jernih berwarna hijau biru. Pulau ini rupanya tidak berpenghuni, hanya jadi persinggahan untuk snorkeling, berjemur di pantai yang bersih atau sekedar piknik di hutan yang teduh. Oleh operatur tur, kami disediakan perlengkapan untuk snorkeling dan diberi waktu sekitar 45 menit untuk menikmati Bamboo Island.

 - Bamboo Island -

Puas bermain di Bamboo Island, kami pun beranjak menuju Maya Bay yang menjadi lokasi film Leonardo Di Caprio - The Beach. Untuk mencapainya, kami melalui Pileh Bay yang luar biasa cantik! Berupa laguna dengan karang dangkal dan koral yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari boat. Speed boat kami melambat untuk memberi kesempatan kami  menikmati koral yang berwarna-warni.

- Pileh Bay -

Maya Bay dipenuhi wisatawan ketika kami tiba di sana. Dari kejauhan pulau kecil tak berpenghuni itu sudah tampak riuh dengan manusia. Kami jadi sedikit tak leluasa mengabadikan keindahan Maya Bay dengan pasir putih dan deretan long tail boatnya yang berwarna-warni. Di sini, kami banyak berjumpa pelancong asal Indonesia yang datang dari Phuket. 

- Maya Bay, Koh Phi Phi National Park -

Maya Bay benar-benar memanjakan mata, bahkan dengan limpahan wisatawan yang datang untuk berkunjung setiap harinya, tempat ini tetap terjaga kebersihan dan kejernihan airnya. Tidak ada sampah yang tertinggal di pantai atau menggenang di lautan sekitar. Ranger, penjaga pantai pun dengan rutin berkeliling pulau dan menyapa wisatawan yang datang sembari mengingatkan untuk berkunjung lagi ke Thailand. Sungguh promosi wisata yang sangat ampuh! Keramahan mereka membuat saya tidak pernah kapok kembali ke Thailand!


Setelah berdiskusi dengan operator tur mengenai keinginan kami langsung ke Phuket tanpa melalui Krabi, tour guide kami menyarankan untuk langsung menumpang ferry boat dari Phi Phi Don Island, pulau terbesar di antara gugusan pulau di Koh Phi Phi National Park. Ferry terakhir menuju Phuket tersedia hingga pukul 14.30, sehingga kami diperkirakan masih memiliki cukup waktu untuk menikmati makan siang dan berkeliling Phi Phi Don sebelum bertolak ke Phuket.

- Phi Phi Don Island -

Setibanya di Phi Phi Don, kami langsung digiring untuk makan siang seafood prasmanan di sebuah restaurant besar yang menghadap ke pantai. Setelah itu operator memberikan kesempatan kepada peserta tur untuk berkeliling Phi Phi Don sekedar membeli oleh2. Kami langsung mencari agen untuk membeli tiket ferry ke Phuket. Beruntung kami mendapat tiket yang cukup murah seharga 250 BHT untuk sekali perjalanan tujuan Rassada Pier - Phuket menggunakan ferry Chao Koh Group, lebih murah 100 BHT dari tiket yang dijual di Phi Phi Pier. Rassada Pier ini merupakan pelabuhan yang terletak di Phuket Town.

Berhubung masih tersedia cukup waktu sebelum berangkat ke Phuket, saya menyempatkan belanja oleh2 kaos bertuliskan Phi Phi Island dengan gambar shark yang khas seharga 150 BHT. Kaos ini hanya dijual di Phi Phi Don dan tidak tersedia di Krabi ataupun Phuket. Disarankan untuk menawar dan membandingkan harga sebelum membeli di kios2 souvenir yang tersebar di sepanjang Phi Phi Don. Jangan langsung memutuskan membeli di kios2 yang terletak di bagian depan pulau dengan harga yang mahal, karena kalau sedikit bersabar dan berkeliling, di bagian belakang pulau ataupun kios2 dekat Pier memberikan harga yang bisa lebih murah 50 - 100 BHT :) 

to be continued...:) 

Pha Nga Province - The James Bond Island Tour


Saya baru selesai menuntaskan breakfast ketika Rung dari Siam Andaman Group menjemput kami di hotel. Agak terlambat setengah jam dari yang dijadwalkan. Hm, rupanya kebiasaan ngaret warga Malay sedikit menular ke warga selatan Thailand. Rung berkilah kalau kami adalah penumpang terakhir yang dijemput. Tapi tak apalah, sepasang kursi di bagian tengah minivan baru ber-AC yang menjemput kami telah tersedia. Bersama Rung, guide kami yang jenaka, dan 9 orang wisatawan lain di minivan, kami siap menjelajah Pha Nga.

Dari Ao Nang, kami berkendara sekitar 45 menit menuju dermaga longtail boat, sejenis kapal tradisional Thailand dengan bagian ekor yang memanjang dihiasi pita. Rupanya ada minivan lagi yang bergabung dengan kami hari itu sehingga total sekitar 20 orang dalam boat. Menjelang keberangkatan, Rung sibuk membagi2kan kapas penutup telinga kepada kami. Suara mesin boat yang menderu cukup memekakkan telinga.

- Longtail boat vs Minivan -

Destinasi pertama kami tentu saja Pha Nga Bay, lokasi syuting film James Bond - The Man with The Golden Gun yang belum pernah saya nonton sebelumnya. Namun, Rung telah cukup banyak bercerita sekilas mengenai film ini sejak di minivan tadi. Lokasi ini identik dengan batuan kapur berbentuk paku yang berdiri tegak di tengah2 lautan, tempat syuting adegan kejar2an James Bond menggunakan speed boat. Pulau kecil di dekat Pha Nga Bay bernama Koh Ping Gan, hanya terdiri perbukitan dan gua kapur, serta sedikit tanah datar yang dipenuhi penjual souvenir. Kebanyakan souvenir yang dijual berupa aksesoris yang terbuat dari kerang, mutiara imitasi atau kaos 'I Love Krabi'. Namun, Rung telah memperingatkan bahwa harga souvenir2 ini jauh lebih mahal daripada barang serupa yang dijual di Ao Nang atau Krabi Town.

- Pha Nga Bay, Krabi -

Puas berfoto dan menikmati Pha Nga Bay yang cukup riuh dengan wisatawan, longtail boat kami beranjak menuju hutan mangrove untuk sightseeing dan canoeing. Longtail boat kemudian ditambatkan pada sebuah kapal terapung. Di sini kami disambut dengan handuk dingin dan disuguhi sirup dingin, slurruuup.... Wisatawan yang memilih paket canoeing segera bersiap dengan life jacket untuk menyusuri hutan mangrove dan menikmati keindahan gua kapur sambil berkano. Sedangkan kami yang hanya memilih paket sightseeing bebas menikmati pemandangan dari atap kapal terapung tersebut.

Namun, paket sightseeing sudah cukup memuaskan hobi fotografi saya. Lokasi kapal terapung yang bersandar dekat dengan hutan mangrove tetap memungkinkan saya mengeksplorasi keindahan mangrove tanpa perlu berkano.

- Koh Panyee, Krabi -

Siang menjelang dan kami digiring oleh Rung menuju Koh Panyee atau terkenal dengan muslim floating village. Konon perkampungan terapung ini telah ada sejak ratusan tahun lalu sejak jaman nenek moyang orang Thailand dan dihuni secara turun temurun oleh muslim2 Thailand hingga saat ini. Perkampungan ini luasnya mungkin hanya sepantaran Pulau Tidung, bisa dikelilingi hanya dengan berjalan kaki. Bagian depan pulau merupakan restaurant tempat kami menikmati makan siang prasmanan full seafood! Kami disuguhi hidangan seafood yang tidak habis2nya, buah2an tropis pun disajikan untuk dinikmati sepuasnya. Belum terhitung minuman dingin, kopi dan teh yang dituangkan oleh pelayan yang berkeliling menawarkan minuman gratis karena termasuk dalam paket tour. Bagian belakang pulau terdapat lapak souvenir dengan harga yang lebih murah dibandingkan di Koh Ping Gan. Bukan hanya souvenir saja yang menjadi komoditi jual di pulau ini, cemilan2 asam khas Thai dan bahkan ikan yang dikeringkan pun bisa dibeli di sini!

- Sleeping Budha, Suwankhukha Temple -
(photo courtesy of R.C. Permana)


Tujuan berikutnya adalah Suwankhuha Temple, merupakan gua tempat berdoa yang di dalamnya terdapat patung Budha emas raksasa. Terkenal juga sebagai Monkey Cave, karena di bagian depan gua dijaga oleh banyak monyet2. Namun, monyet2 ini tidak mengganggu pengunjung dan tidak nakal seperti monyet2 di Ubud Forest, mereka bahkan dengan senang hati duduk2 di pangkuan orang yang memberinya makanan.

- Suwankhukha Temple a.k.a Monkey Cave -

Suwankhukha Temple tidak hanya sebagai tempat untuk berdoa, bahkan ada area khusus untuk meramal nasib! Patung Budha berbagai ukuran dan posisi terdapat di setiap sudutnya. Untuk berfoto dengan latar belakang Budha, kita diminta berpakaian yang pantas (pundak tertutup dan celana/rok yang melebihi lutut), selain itu juga dilarang menyentuh patung Budha dan mengganggu biksu yang sedang berdoa. Beberapa wisatawan yang cukup bernyali diajak naik ke tempat berdoa yang terdapat di bagian atas gua, saya sempat naik sesaat dan melongok ke bawah, walaupun berpengaman, namun cukup tinggi dan menakutkan juga hehehe... Tapi dari ketinggian itu kita jadi lebih leluasa menikmati stalagmit dan stalaktit yang memukau :)

Sore menjelang dan beberapa orang di minivan kami mulai tertidur kelelahan. Namun masih satu tempat lagi untuk dikunjungi, yaitu air terjun. Saya tidak terlalu bersemangat karena yang seperti ini banyak di Indonesia, lebih2 di kampung saya terdapat Air Terjun Takapala dengan tangga seribunya.


Benar saja, tempat yang dikatakan air terjun hanya berupa kolam kecil berair jernih dengan aliran air seperti pancuran desa. Segitu saja bule2 sudah semangat untuk turun dan berenang -__- Tapi lumayanlah untuk sekedar melepas lelah sambil bermain dengan airnya yang dingin. Rung terheran2, "I can help you with the camera if you're worry it's getting wet", ucapnya menyayangkan saya tidak ikut berenang. Saya nyengir2 saja sambil berucap, "I have many like this in my country, a bigger one located near my hometown."diikuti pandangan kagum bule2 sekolam, cieee....

Perjalanan kami hari itu akhirnya berakhir di kolam pancuran, eh kolam air terjun :) Satu persatu peserta tour diantarkan kembali ke penginapan masing2. Saya sendiri minta diturunkan di pantai Ao Nang sambil menunggu senja untuk mengabadikan sunset :)


Lady in Red - Tari Samba Cirebon


Here's some captures taken in Festival Wayang Indonesia 2011
It's one of traditional Cirebon dance named Tari Samba



The actual dance was done by two ladies,
but this lady in red is my favorite
Beautiful lady is beautifully caught by the lens!

Thanks to my fellow bloggers : Asruldin Azis & Mila Said
can't wait for our next kopdar, guys :)

Ao Nang Day 2 : City Tour and Island Tour in Krabi

Hari kedua di Ao Nang saya habiskan dengan istirahat dan berjalan2 sembari menunggu teman seperjalanan saya yang akan menyusul langsung dari Singapura. Rencananya kami akan menggunakan 3 hari yang tersisa di Krabi untuk mengunjungi beberapa lokasi wisata. Berhubung hotel tidak menyediakan breakfast, tiap pagi sudah menjadi rutinitas saya menyeberang ke 7 eleven untuk membeli sarapan berupa nasi goreng atau mie seharga 26 Baht dan segelas kopi hangat seharga 14 Baht. Cukup mahal untuk sebuah sarapan instan :(

Berhubung
budget dan waktu yang terbatas, saya pun harus menentukan tempat2 yang ingin saya kunjungi di Krabi. Phi Phi Island dan Maya Bay menjadi opsi wajib di antara pilihan lainnya, yaitu Pha Nga dan Tub Island. Maya Bay jelas menjadi destinasi utama. Saya penasaran ingin membuktikan keindahan alam yang menjadi lokasi utama film The Beach yang dibintangi Leonardo Di Caprio. Sedangkan Pha Nga merupakan lokasi salah satu film James Bond - The Man With The Golden Gun yang tayang sebelum saya lahir, jadi saya tidak terlalu penasaran. Namun, teman seperjalanan saya lebih antusias ke Pha Nga daripada ke Phi Phi yang ramai. Sedangkan Tub Island sendiri merupakan pilihan kami berdua untuk leha-leha menghabiskan sisa waktu. Pulau ini kabarnya memiliki pemandangan yang lebih indah dan lebih private daripada pulau lain yang turistik.

-Ao Nang Beach, Krabi-

Setelah menghitung2, ternyata budget yang harus dikeluarkan untuk ngeteng lebih mahal daripada ikut
tour. Karena beberapa lokasi tersebut cukup jauh dan membutuhkan lebih dari satu alat transportasi untuk mencapainya. Jadilah setelah hunting beberapa agen tour di sepanjang Ao Nang, pilihan kami jatuh pada Ao Nang Photo Travel Agent yang berlokasi di 205, Moo 2 Ao Nang, Muang District. Alasannya jelas, harga yang ditawarkan miring sekali dibandingkan agen lain.

Untuk ketiga lokasi yang ingin kami kunjungi, kami diberi tawaran 3 jenis tour. Yang pertama tentu saja tour Phi Phi Island seharga 900 Baht. Harga yang cukup masuk akal mengingat penawaran di brosur2 mulai dari 1200 Baht hingga 1800 Baht. Tour kedua adalah James Bond Tour ke Pha Nga seharga 800 Baht, dari harga semula 1000 Baht. Sedangkan untuk ke Tub Island, kami disarankan untuk mengambil
4 Islands Tour seharga 1200 baht, namun diskon sampai 800 Baht

-Maya Bay, Phi Phi Island-

Untuk Phi Phi Tour seharga 900 Baht, fasilitas yang ditawarkan yaitu : antar-jemput dari hotel, speed boat dari Ao Nang ke 3 destinasi pulau (Bamboo Island, Phi Phi Don Island dan Maya Bay),
snorkeling di 2 spot lengkap dengan alatnya, asuransi, guide, air mineral dingin unlimited dan makan siang prasmanan. Kalau budget terbatas, ada alternatif lain menuju Phi Phi Don yaitu dengan long tail boat, harga yang ditawarkan dari Ao Nang mulai 400 Baht one way atau 600 Baht return. Tapi waktu yang diperlukan 2x lebih lama dan trip ini bukan merupakan perjalanan ke beberapa tempat. Hanya menuju Phi Phi Don saja, dari pulau utama ini barulah kita bisa mencari-cari harga tour yang lebih murah.

-Long Tail Boat-

Untuk paket kedua, James Bond Tour seharga 800 Baht aktivitas yang ditawarkan jauh lebih beragam. Ada 2 macam aktivitas dengan harga berbeda yang bisa dipilih. Pertama
James Bond Sightseeing Program seharga 800 Baht dan Canoeing Program seharga 1000 Baht. Fasilitasnya meliputi : antar-jemput dari hotel, long tail boat ke Pha Nga, berkunjung ke Monkey Cave, makan siang dan berbelanja di floating village (muslim village) dan mengunjungi air terjun. Untuk yang mengambil Canoeing Program, akan ada tambahan berkano mengelilingi gua. Karena kami berdua orientasinya hunting foto dan khawatir kamera akan basah kalau ikut berkano, kami memilih paket Sightseeing saja.

-Pha Nga, The James Bond Island-
Sedangkan Paket 4 Island untuk ke Tub Island seharga 800 Baht tidak jadi kami ambil karena hari ketiga kami hendak overland ke Phuket. Sekedar informasi untuk paket ini, fasilitasnya antara lain : antar-jemput dari hotel, mengunjungi 4 pulau menggunakan speed boat (Tub Island, Chicken Island, Poda Island dan Phra Nang Cave), snorkeling lengkap dengan alat, asuransi, air mineral dingin unlimited dan makan siang prasmanan.

Ada 1 jenis paket wisata lagi yang populer dari Krabi, yaitu
Hong Island tour seharga 900 Baht dengan destinasi Hong Island, Lading Island (Paradise Island), Pakbia Island dan Rai Island. Aktivitas yang bisa dilakukan antara lain berenang, snorkeling dan sightseeing. Fasilitas yang ditawarkan sama dengan tour lainnya.

Beres dengan urusan tour, hari kedua kami hanya kuliner
touring dengan makan siang di Sofitel Hotel Krabi yang mewah dan indah (karena gak sanggup nginap di sana, numpang makan siang juga gak apa2, hihihi....) dan malamnya menikmati massage khas Thailand yang banyak terdapat di Ao Nang. Harga massage beragam, mulai dari 50 Baht sampai body massage 250 Baht. Kami beruntung karena setibanya di Phuket, harga hand massage-nya saja mencapai 150 Baht, apalagi body massage!

-Sofitel Hotel Krabi-

Hari kedua di Ao Nang begitu
relaxing dan menyenangkan. Kami pun bersiap menikmati petualangan hari berikutnya : Pha Nga and Phi Phi Island here we come.....:)

be continued to Pha Nga Province - The James Bond Island Tour

Overland Hatyai to Krabi (Ao Nang)

Selepas imigrasi Thailand di Sadao, minivan yang saya tumpangi memasuki Hatyai, wilayah paling selatan di Thailand yang merupakan kota perbatasan antara Malaysia dan Thailand. Konon, di daerah selatan Thailand marak terjadi penembakan, penge-bom-an dan demonstrasi anarkis lainnya. Posisi Hatyai kurang lebih sama dengan Johor Bahru, selain sebagai kota transit juga sebagai tempat belanja murah meriah bagi warga Malaysia.

Hari sudah siang ketika minivan saya memasuki pusat kota Hatyai. Bau ayam goreng dan nasi pulut yang menjadi panganan khas di kawasan selatan Thailand mulai mengawang2. Tapi minivan langsung berbelok ke stasiun kereta, mengantarkan salah satu bule yang akan melanjutkan perjalanan ke Bangkok dengan kereta api. Setelah itu, giliran saya dan penumpang lainnya diturunkan di kantor agen perjalanan. Kami dijanjikan akan melanjutkan ke Krabi dengan minivan yang berbeda. Jadi tibalah saat perpisahan saya dengan supir minivan muslim yang baik hati itu. "
I'm your best friend in Thailand, my muslim sister,"ucapnya sebelum meninggalkan saya di agen. Wow, inilah salah satu keramahan Thailand selatan yang tidak bisa saya lupakan :)

-Ao Nang Beach, Krabi-

Ternyata hanya 4 orang penumpang minivan dari Penang yang akan melanjutkan ke Krabi, yaitu ; saya, 2 orang cewek backpacker asal Swedia dan seorang lagi backpacker cowok asal Australia. So, sambil menunggu minivan ke Krabi, kami bercengkrama sambil membicarakan tujuan masing2. Si cowok minta diturunkan di Krabi Town sedangkan 2 cewek Swedia itu akan langsung ke Ao Nang. Awalnya saya berencana menginap di Krabi Town saja untuk menghemat, mengingat biaya hidup di Ao Nang lebih mahal. Lagipula, hari sudah sore dan kabarnya
songthaew (semacam angkot di Thailand) yang menuju Ao Nang hanya beroperasi hingga pukul 6 sore. Tapi kedua cewek Swedia itu berkeras akan tetap ke Ao Nang malam itu juga karena mereka telah terlanjur booked hostel di Ao Nang. "There's nothing to see in Krabi Town, you just gonna waste your time.."ujar salah satu dari mereka. Saya pun tergoda, lagipula saya toh berencana akan ke Ao Nang juga akhirnya. Okee, akhirnya kepada pengemudi minivan ke Krabi, kami bertiga minta diturunkan di pangkalan songthaew ke Ao Nang.

Minivan yang membawa kami ke Krabi hampir sama dengan minivan yang kami tumpangi dari Penang. Hanya saja saya tidak mendapat
hot seat lagi di bangku depan. Tapi tak apalah, lagipula saya berencana tidur saja karena sejak dari Penang sibuk ngobrol dengan pengemudi sebelumnya. Perjalanan ke Krabi ditempuh kurang lebih 4 jam, dengan satu kali persinggahan di sebuah rest area. Rest Area ini hanya semacam minimarket dengan restoran di bagian dalamnya dan penjual jajanan kaki lima di bagian depannya. Saya menghabiskan 15 Baht untuk segelas teh tarik dan 25 Baht untuk sepiring nasi campur dengan 1 lauk ikan bumbu kuning dan 2 macam sayur, ditambah segelas air dingin gratis. Yummy dan muraaaah....! Dijamin halal pula, karena penjual2nya rata2 muslim Thailand berjilbab. Sebelum meninggalkan rest area, saya juga sempat membeli jajanan Thailand berupa gorengan ditusuk sate yang dicelup di saos asam manis khas Thai seharga 10 Baht/buah.

-View from songthaew-

Setibanya di Krabi Town, saya dan kedua cewek Swedia diturunkan di pangkalan songthaew. Kami langsung duduk manis di salah satu songthaew yang sudah mulai penuh. "
Last songthaew to Ao Nang...."ucap kernek songthaew. Wajar, kami tiba menjelang petang, malahan saya suprise jam segitu songthaew masih beroperasi. Telat sedikit, bisa2 kami bertiga harus menyewa tuk-tuk atau mungkin taxi ke Ao Nang.

Perjalanan ke Ao Nang ditempuh sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan saya disuguhi pemandangan gunung kapur yang indah menjulang di kiri dan kanan jalan. Belum lagi latar senja yang memukau dengan warna kuning keemasannya. Semakin mendekati Ao Nang, pemandangan mulai berganti hamparan pantai dengan sunset yang menyembul di balik awan. Sungguh panorama yang istimewa!

-Sunset @Ao Nang Beach-

Karena belum membooked penginapan, saya pun memutuskan untuk membuntuti si duo Swedia ke hostel mereka. Tapiiii....pantai Ao Nang kelihatan semakin menjauh dan penumpang yang tersisa di songthaew tinggal kami bertiga, namun hostel si duo belum juga ketemu. Sampai akhirnya kami tiba di daerah yang sepi penginapan. Ternyata, mereka berdua nginap di homestay yang jauh dari pusat keramaian. OMG..., dengan waktu yang terbatas dan transportasi yang sulit, saya enggan menghabiskan waktu jauh dari keramaian Ao Nang. Apalagi si kenek songthaew mengatakan setelah jam 6 sore, kendaraan umum tidak lagi beroperasi.

Saya pun memutuskan berpisah dari duo Swedia dan minta diantarkan kembali ke area sekitar pantai. Untuk 'kerusakan' rencana ini, saya dikenakan 200 Baht oleh supir songthaew. Tapi saya sudah pasrah, daripada memaksakan di homestay terpencil dan tak bisa kemana2. Si pengemudi menurunkan saya di depan Mc.Donald dan saya pun mulai menyusur jalan mencari hostel yang masuk budget. Salah saya juga, tidak mempersiapkan akan menginap di Ao Nang, jadilah saya benar2 tidak ada ide akan menginap di mana malam itu kecuali di masjid yang kubahnya bisa saya lihat dari kejauhan :((

-Ao Nang Street, Krabi-

Dengan berpeluh keringat menenteng backpack, saya memasuki penginapan satu persatu dan menanyakan harga. Budget maksimum saya 300 Baht semalam, namun nampaknya sulit karena kebanyakan hostel di Ao Nang tidak menetapkan sistem dormitory, hanya private room, villa atau resort. Saya hampir putus asa ketika seorang pria tua mendekati saya menawarkan kamar. Ternyata dia calo kamar,
"how much do you wanna pay?" tanyanya. Dengan muka memelas saya menyanggupi 300 Baht saja. Dia menggeleng, "you won't get any! My cheapest price is 400 Baht with aircon." Huff....karena langit sudah gelap dan saya pun sudah kelelahan, tawaran pria tua itu langsung saya sanggupi. Tak apalah untuk satu malam, besok kan saya masih punya kesempatan untuk cari yang sesuai budget.

Saya langsung dibawa ke sebuah penginapan baru, mirip villa mahal dengan pemandangan gunung kapur dan pantai. Saya diberi single room luas ber-AC di lantai 2, dengan fasilitas shower air panas-dingin dan toilettris lengkap. Wohooooo.........it's way better! Setelah mandi, saya turun dan duduk2 di gubuk2 bambu depan lobby yang menghadap ke jalan. Jarak pantai dari hostel ini hanya 10 menit berjalan kaki, dekat dengan Mc.Donald dan terdapat 7 eleven di seberangnya.

Pemiliknya yang seorang Thailand keturunan India mengajak saya ngobrol sambil ngemil hingga larut. Ternyata hotel ini baru 2 bulan beroperasi dan harga kamar paling murah 600 Baht. Jadi kamar 400 Baht saya itu nilainya 600 Baht!hehehe.... So, saya sangat merekomendasikan hotel ini : Aree Baba Mansion, 564 Moo 2 Ao Nang Muang Krabi 81000. Karena baru, masih agak sulit menemukannya secara online, jadi untuk reservasi bisa melalui email : areebabamansion@hotmail.com atau telp : (+66) 0899-759992. Harga kamar tanpa breakfast mulai dari 600 Baht untuk single room sampai yang termahal 1200 Baht semalam untuk double room dengan fasilitas tambahan TV dan minibar.

-Aree Baba Mansion, Ao Nang-

Semakin malam, Ao Nang malah semakin sepi. Tidak seperti Kuta yang riuh dengan kehidupan malamnya. Ao Nang lebih kalem, damai dan tidak bernuansa erotis seperti umumnya daerah wisata pantai. Malah kebanyakan pendatang berwisata dengan keluarga. Selama di Ao Nang saya bahkan tidak menemukan satu pun
ladyboys yang selama ini selalu identik dengan Thailand. Mungkin karena mayoritas penduduk Ao Nang yang muslim.

Ao Nang hanyalah sebagian kecil keindahan Krabi yang telah saya nikmati. Can't wait to explore rest of beautiful exotic Krabi :)

be continued to Ao Nang Day 2 : City Tour and Island Tour in Krabi

The First is on Chic Magazine


The First is being reviewed on Chic Magazine !!!


-Chic Magazine #91, 15th-29th June 2011-

Thank you so much, Friends!
Hopefully my blog will be the best reference for your budget traveling or backpacking activities

Happy Travelling
d(^^,)b

Screenshot : Senja Dinihari


There's always something about God's decision that we barely understand

Semuanya berawal dari Salemba RSCM dan berlabuh di National University Hospital Singapura...,

Terinspirasi menuliskan alur empat tahun bergelut dalam jurang iman, yang sarat konflik dan penolakan dari keluarga, teman dan lingkungan

Saya akhirnya terilhami untuk menceritakan pergulatan batin Maryam dengan Tuhannya, konflik dengan ibunya dan keyakinannya akan jalan yang dipilihnya


Maryam terjebak untuk memilih ;
cinta kepada TuhanNya ataukah kepada lelaki yang menjadi ayah dari janin yang dikandungnya...

"...karena perbedaan diciptakan Tuhan semata untuk menguji iman umatNya"

'A memoar for dr. Raditya Christian Permana'

Published on Majalah Chic, terbit 4 Mei 2011

My First Solo Backpacking : Overland Penang to Hatyai

The real journey begin..., setelah kebersamaan kami selama 4 hari di Singapura dan Penang, saya akhirnya harus menerima kenyataan berpisah dengan Indy-Ipeh-Rusty. Mereka bertiga akan kembali ke Jakarta via Singapura, sedangkan saya melanjutkan perjalanan ke Thailand. Sendirian...huff, here's the story...

Setelah
check out dari hotel dan buru2 mengemas breakfast dari hostel dengan tissue (teteup...gak mau rugiii hehehe...), kami langsung duduk manis di teras depan menunggu mobil jemputan. Indy-Ipeh-Rusty dijadwalkan berangkat lebih awal dan akan dijemput oleh agen sekitar jam 8 pagi. Tapiiii....ternyata lewat 15 menit dari yang dijadwalkan, si agen tak kunjung muncul juga. Mereka bertiga mulai resah, saya juga ikut2an resah. Pasalnya saya membeli tiket ke Krabi dari agen yang sama.
Link

Si kokoh pemilik hostel malah berkelakar tentang kebiasaan orang2 di Malaysia : "Better Late that Earlier". Hahaha...ternyata orang2 malay sebelas-dua belas juga dengan kitaaaaa hihihi. Dan memang setelah menunggu sekitar 25 menit, agen penjemput datang dengan minivan tua. Mereka bertiga tambah cemas, "rileksss...."kata si kokoh penjemput, "bukan minivan ini yang akan digunakan ke Kuala Lumpur, nanti akan ganti ke bus AC." Okeee deeeh.... Jadilah kami say goodbye sambil peluk2an di depan hostel, sambil ditontonin bule2 yang lagi sarapan...yuuk mareee :)


Saya sendiri dijanjikan akan dijemput jam 9 teng dan sekitar 20 menit kemudian, datanglah minivan AC yang sudah penuh dengan penumpang di dalamnya. Total 5 orang bule dengan backpack segede-gede bagong, ditambah suami-istri bertampang oriental di kursi tengah. Rasa2nya saya yang paling mungil di antara mereka, jadilah si supir (berkulit hitam mirip orang India dengan bahasa Inggris yang payah) menyilahkan saya duduk di kursi depan, tepat di sampingnya, "tapi nanti bakal ada 1 orang lagi yang duduk di depan"katanya mengingatkan. Horeeeeee....ga apalah berimpitan dengan orang lain di kursi depan, tapi saya beruntung karena bakal menikmati view terbaik sepanjang perjalanan, since it is my very first backpacking alone. Sendirian sodara2....:)

-Penang Bridge-

Akhirnya setelah menjemput penumpang terakhir, minivan mulai melaju meninggalkan Georgetown. Melewati Penang Bridge yang ketika saya datang tidak sempat saya nikmati. Duduk di kursi depan membuat saya lebih leluasa jeprat-jepret, belum lagi ngobrol2 dan berbagi cokelat dengan si supir yang baik hati. Bapak supir ini ternyata seorang Thailand muslim dan hanya fasih berbahasa Thai, sedikit Inggris dan melayu. Jadilah obrolan kami waktu itu diselang seling antara Inggris-melayu dan bahasa tarzan :)

Sekitar 45 menit perjalanan, kami singgah di rest area di daerah Alor Setar untuk makan dan mengisi departure card. Saya sekalian menukarkan beberapa Ringgit yang tersisa menjadi Baht (mata uang Thailand). Di area ini juga terdapat Duty Free.


Setelah itu, minivan melaju lagi menuju border Malaysia, Changloon. Saya mulai ketar-ketir, pasalnya bukan rahasia lagi kalau daerah selatan Thailand merupakan daerah dengan tingkat paling kejahatan tinggi, belum lagi penge-bom-an yang kerap terjadi di daerah selatan. Tapi si supir baik hati menenangkan dan berjanji akan menunggu kami di loket imigrasi.

Tidak seperti imigrasi Poipet-Aranyapratet yang saya lalui tahun lalu saat hendak masuk dari Kamboja, situasi imigrasi Changloon ini outdoor tidak ber-AC dengan loket triplek tempat kita ngantri. Masih bagusan loket halte busway :) Tapi enaknya, di border ini tidak perlu dilakukan check barang2 melalui x-ray, cukup stempel paspor saja.

Laluuu...., kita naik minivan lagi dan tiba di border Thailand, Sadao. Keadaan lebih parah, mirip terminal bus dengan tentara2 berseragam. Saya mulai agak panik, belum lagi karena saya jadi yang paling pertama ngantri di antara penumpang sekaligus diserahi tanggung jawab sama si supir u/menyerahkan secarik kertas print-an yang isinya nama2 penumpang satu minivan itu lengkap dengan negara asal masing2.

And you know what....ternyata saya bukan satu2nya WNI di minivan itu. Suami-istri berwajah oriental yang duduk di kursi tengah itu juga ternyata berpaspor hijau sodara2! Yang saya bete' sih karena mereka sudah tahu saya WNI juga, perempuan, sendirian dan panik tapi menyapa pun kagak. Pas disenyumi, si suami pasang muka jutek. Okelaaaah...


Tugas saya nyerahin kertas print-an dengan bahasa Thailand yang mirip cacing pun berjalan mulus. Dan saya mengikuti pakem dari traveler2 pendahulu yang menyarankan u/menyelipkan 10 Baht di paspor u/memuluskan urusan dengan imigrasi. Berhubung waktu itu nilai Baht terkecil yang saya punya hanya 20 Baht, jadilah dengan ogah2an saya selipkan juga duit hijau itu di dalam paspor hijau saya, sambil berharap bakal diselipin kembalian 10 Baht dari om-om petugas imigrasi (ngareeeep.....).

Walau imigrasi Thailand di Sadao ini sebelas-dua belas jeleknya dengan Changloon-nya Malaysia, tapi pemeriksaannya lebih ketat. Pake acara foto2an segala, ditanya2in tujuan ke Thailand sampai ID Card (Thanks to my international student card :)). Setelah itu barulah stempel sakti itu nancep di pasport saya, dengan masa menetap di Thailand hanya 14 hari (kalau kedatangan melalui udara, 30 hari). Tapi tetap tanpa pemeriksaan barang melalui x-ray, jadi saya ga perlu gotong2 backpack.

Setelah semua penumpang semobil selesai dengan urusan imigrasi, minivan melanjutkan perjalanan menuju Hatyai. Meninggalkan om-om tentara bersenjata, yang siaga satu di imigrasi. Sempat juga si om-om tentara ini buka2 pintu minivan kita dan tanya2in si supir mengenai penumpang2nya. Setelah itu kita say goodbye ke om-om tentara yang kulit coklatnya eksotis mampus #eh...

The journey goes on
, minivan melaju kencang dan sejauh mata memandang hanya ada jalan tol dengan terik matahari siang yang meranggas. Krabi masih separuh perjalanan, still 4 hours to go. But Hatyai, here I come....

be continued to : Overland Hatyai to Krabi (Ao Nang)

Cap Gomeh in Heritage City : Georgetown - Penang

Breakfast yang disediakan hostel pagi itu tidak cukup mengganjal di perut kami yang sudah sejak semalam keroncongan. Jadilah pagi2 kami menyusuri Lebuh Chulia untuk mencari sekedar pengganjal perut. Beruntung di ujung jalan Lebuh Chulia & jalan Penang, ada penjual nasi kandar yang telah buka.

Nasi kandar ini makanan khas yang wajib dicicipi ketika berkunjung ke Penang. Berupa nasi putih dengan kuah kari dan lauk ayam goreng. Dijamin halal karena penjualnya sendiri seorang India Islam. Harganya 5 MYR untuk satu porsi nasi lengkap dengan lauk, ditambah 2 MYR untuk segelas teh tarik hangat. Sekedar catatan apabila hendak makan di Penang atau di tempat2 lain di Malaysia, ada baiknya menanyakan terlebih dahulu harga makanannya dengan jelas. Karena ada pengalaman seorang teman yang dipaksa membayar 60 MYR untuk satu porsi nasi kandar yang telah terlanjur dimakannya :(


Setelah perut kenyang, kami menyusuri jalan ke arah Komtar (Kompleks Tun Abdul Razak), yang diklaim sebagai gedung tertinggi di Georgetown ; terdiri dari shopping mall, ruko2 travel agent dan terminal. Tujuan kami adalah membeli tiket bus untuk keberangkatan saya ke Hatyai besok pagi, dan untuk Indri-Ipeh-Rusti yang akan kembali ke Singapura. Di sekitar Love Lane-Lebuh Chulia sebenarnya cukup banyak agen yang menyediakan jasa bus, namun harganya lebih mahal 5-10 MYR. Sebagai perbandingan, harga bus AC ke KL dijual 38-40 MYR, sedangkan kami berhasil memperoleh harga 32 MYR saja di Komtar dengan tambahan 2 MYR apabila ingin dijemput di penginapan.

Saya sendiri awalnya berniat ke Hatyai terlebih dahulu sebelum lanjut ke Krabi karena dari hasil googling, rata2 bus yang ke Krabi harus melalui Hatyai. Namun ternyata ada minivan langsung ke Krabi dengan harga tidak terlalu mahal, 53 MYR dengan penjemputan langsung di penginapan.

Selesai dengan urusan tiket bus, kami langsung menuju Kek Lo Si Temple di Air Itam. Kami naik Rapid Penang U201 dari Lane 2 di terminal Komtar dan membayar 2 MYR. Kami menempuh perjalanan sekitar 30 menit sebelum akhirnya diturunkan di tepi jalan. Untuk mencapai Temple yang terletak di puncak, kami harus melewati jalan mendaki di antara kios2 penjual souvenir dan teriknya matahari siang. Tetapi perjuangan tidak sia2 setelah mencapai Kek Lo Si Temple yang menawan, dengan warna-warni hiasan Cap Gomehnya yang indah.


Yang paling mencolok dari Temple ini adalah patung Dewi Kwan Im yang menjulang di tengah2 pelataran. Untuk mencapai pelataran ini, kita perlu naik lift dengan membayar 2 MYR one way atau 4 MYR return.

Puas menghabiskan waktu di Air Itam, kami pun bertolak kembali ke Georgetown dengan Rapid Penang dan diturunkan di
The Queen Victoria Memorial Clock Tower yang berdekatan dengan Fort Cornwallis. Hanya saja karena sudah kecapaian, kami hanya foto2 saja di Fort dan memilih untuk tidak masuk. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Esplanade karena menurut brosur yang kami peroleh dari hostel, pada hari itu akan diadakan perayaan Cap Gomeh di Esplanade.


Esplanade sudah riuh dengan orang2 yang mempersiapkan perayaan Cap
Gomeh hari itu. Street Hawker bertebaran di mana-mana, kami yang sedari siang belum makan, langsung semangat mencoba bermacam-macam kuliner khas melayu-peranakan yang dijajakan. Asyik2nya menikmati laksa, satay & chamomile tea, suasana langsung ramai. Ternyata acara Barongsai sudah dimulai, belum lagi seorang pria berpakaian mirip raja2 Cina jaman dulu lagi sibuk bagi2 amplop berisi ampao, hehehe... Tak lama kemudian, datang pula pejabat kebudayaan Penang gitu deh, dalam mobil hias dengan pakaian tradisional. Waaaah...tambah semangat kita foto2nya :)


Menjelang petang, kami berjalan kaki kembali ke arah Lebuh Chulia dan masih semangat foto2 gedung2 tua yang makin cantik dengan lampunya. Puas senang2 seharian, siap2 mandi dan istirahat eeeeegh, kami baru nyadar kalau belum beli oleh2 apapun khas Penang! Jadilah, mumpung masih jam 7 malam, kami buru2 ngacir lagi Chowrasta Market, berharap masih ada penjual yang buka. Tapiii..., ternyata jam segitu sudah sepi dan yang buka hanya 1 toko yang jualan kue2. Jadilah kami hanya beli bakpia kacang hijau khas Penang seharga 4 MYR sekotak (dan ternyata enak banget, nyesel cuma beli sekotak hiks...).


Balik2 ke hostel, bukannya langsung mandi & istirahat, kami malah asyik ngobrol dengan pemilik & tamu2 hostel sambil menikmati kembang api Cap Gomeh yang menghiasi langit malam itu....what a great one full day in beautiful Georgetown!

be continued to : My First Solo Backpacking - Overland Penang to Hatyai

Screenshot : Tentang Rasa


We never know when, where and with whom would be the best opportunity for Love.
We can find love everytime, everywhere with everyone that we've never known before
...

Berlatar eksotisme
Angkor Wat di Siem Reap dan keriuhan perayaan Imlek, cerpen ini merangkum indahnya pertemuan pertama tokoh Naniek dan Irwan di Kamboja.

Kenangan perjalanan saya tahun lalu di negara Khmer menjadi warna dalam cerita ini. Romantisme
Angkor Wat dan keindahan Seam River merupakan jejak tertinggal yang menjadi awal cinta untuk mereka berdua.


Rasa ada di setiap ruang dan waktu, tak lekang dilapuk usia,
...dan cinta bercerita segalanya tentang rasa

Naniek did find her love during holiday, far away from home with her future best friend.
...because falling in love is just the most awesome feeling in the world

Published on Majalah Chic, terbit 26 Januari 2011

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...