Wednesday, August 26, 2009

Backpaking@Ubud

Alternatif berwisata murah meriah di Bali adalah dengan menggunakan shuttle bus. Ini yang saya dan kebanyakan turis asing yang berasal dari Barat lakukan. Turis asal Asia (terutama Jepang dan Korea) lebih memilih menggunakan private tour. Layanan ini tersedia di hampir semua hotel model backpacker. Biasanya akan dipajang pengumuman di resepsionis. Waktu keberangkatan dan tujuannya pun tergantung banyaknya orang yang sepakat. Tapi jangan khawatir, karena setiap hari selalu ada keberangkatan, hanya tujuannya saja yang tidak terprediksi, tergantung peminat.

Saya beruntung karena waktu itu kurang satu orang yang diperlukan untuk ke Ubud. Jadilah saya mendaftar dengan biaya 60rb. Layanan shuttle ini berupa bus atau mobil tua mirip L-300 tanpa AC yang menjemput pesertanya dari satu hotel ke hotel lainnya. Kebetulan waktu itu saya dijemput paling terakhir dan saya terlambat bangun pula! Ha9x…jadilah satu mobil berisi bule2 (saya satu2nya turis lokal dalam rombongan tersebut) terpaksa menunggu saya, he9x….

Ikut tur model beginian harus tahan banting. Pertama, karena setelah dijemput, kita harus rela menjemput rombongan tur lainnya satu demi satu. Jadi, kita tidak bisa mengatur waktu secara tepat, apalagi kalo ada anggota yang hobi telat kayak saya he9x… Kedua, kondisi mobil pas2an, tanpa AC, hobi ngebut (gak pake asuransi) dan harus rela bertumpukan dengan backpack bule2 yang segede gajah. Ketiga, tempat duduk tidak bisa di-booking, siapa cepat dia dapat.

Jadilah waktu itu saya harus rela duduk paling belakang, berdesakan dengan 2 bule dan backpack mereka. Awalnya saya berpikir kami semobil akan menuju ke tujuan yang sama, yaitu tempat2 wisata yang ada di Ubud. Ternyataaaaa……..shuttle ini tidak lebih dari angkutan antar daerah. Hanya nge-drop di satu tempat di Ubud dan tidak bertanggung jawab lagi dengan kami semua.

Dua bule cakep asal Inggris yang tumpuk2an dengan saya di kursi belakang malah mengaku kalau mereka sudah cabut dari hotel di Kuta dan bermaksud untuk menginap di Ubud selama beberapa hari. Wuaaaah….padahal saya kan nyari teman pulang, hiks. Untungnya shuttle ini juga melayani tujuan ke Kuta kembali pada jam2 tertentu (3 dan 6 sore). Saya akan dijemput di pangkalan mereka (depan Monkey Forest Ubud) jam 2.45 dengan biaya 60rb.

Jadilah, daripada terlantar gak jelas di Ubud, saya memilih untuk menguntit 2 teman baru saya asal Manchester : Matthew dan Alex. Kami bertiga kemudian berjalan kaki menyusuri jalan2 di Ubud dengan modal buku Lonely Planet milik Alex untuk mencari penginapan backpacker. Sekitar 1 jam-an berjalan kaki sampai keringatan, kami akhirnya menemukan penginapan murah-meriah yang nyaman.

Sebagai kompensasinya, mereka berdua bersedia menemani saya seharian mengeksplor Ubud sampai shuttle menjemput. Tujuan pertama adalah Monkey Forest. Dengan biaya 15rb per-orang, kami bertiga puas berkeliling Monkey Forest (yang sebenarnya gak luas2 amat, lebih luas Gelora Bung Karno) dan menyinggahi 3 Pura yang terdapat di dalamnya, yaitu Pura Dalam Agung, Pura Penyucian dan Pura Prajapati.


Alex memilih bersenang2 dengan memberi makan monyet2, sedangkan saya dan Matt memilih berfoto2.

Ada pula sebuah kolam yang di dalamnya terdapat banyak uang koin. Konon, dengan melemparkan koin ke dalamnya disertai make a wish, keinginan kita bisa terkabul.

Selanjutnya kami makan siang di warung yang berada di sekitar Monkey Forest. Alex dan Matt memilih menu nasi campur dengan sate pork dan ayam bakar seharga 20rb/porsi, sedangkan saya cukup puas dengan Big-Mac McD yang saya beli semalam.

Perjalanan ala backpacker ini berlanjut ke Pura Ubud yang terletak di samping pasar Ubud. Berhubung saya lagi berwisata dengan 2 orang backpackers, jadilah semua perjalanan ditempuh dengan kaki he9x…. Jarak dari Monkey Forest ke Pura tersebut 2 kilo men!!! Tapi berhubung menjalaninya dengan 2 cowok cakep, cuma serasa 500 meter he9x.

Ubud terkenal dengan kerajinan tangan seperti kalung2 dan ikat pinggang manik2. Tapi berhubung saya lagi jaim dengan 2 teman baru saya yang hobinya hanya foto2, jadilah keinginan belanja saya pendam dalam2 he9x…. Lagian di tempat2 wisata lain (Tanah Lot, Sukawati) juga dijual barang yang sama. Harga tergantung kemampuan nawar sampai mampus he9x…

Perjalanan yang melelahkan dan menguras tenaga (yup….karena saya harus jalan balik 2 kilo lagi ke tempat mangkal shuttle di Monkey Forest). Tapiiii…..setelah mengucap salam perpisahan kepada 2 teman baru saya yang baik hati itu, saya diam2 naik ojek men!!! He9x…di Ubud, hanya terdapat kendaraan pribadi atau motor, karena kebanyakan yang berdiam di Ubud adalah wisatawan asing yang hobinya jalan kaki. Dengan ongkos 15rb (hasil nawar mpe teriak2), saya diantarkan ke tempat shuttle.

Shuttle menjemput tepat waktu dan saya tiba dengan selamat sampai ke Kuta, tapi tepar bersama semobil bule2 keringatan yang juga baru habis meng-eksplore Ubud he9x….

Sekedar infomasi, shuttle ini melayani ke berbagai tujuan di Bali dengan harga terjangkau walaupun fasilitasnya minim. Misalnya untuk ke Sanur, hanya dikenai biaya 40rb. Cocok sekali untuk para backpackers yang hobi bertualang, punya waktu menetap yang cukup lama di Bali dan hobi nguntit bule2 keren kayak saya he9x….

^^

2 comments:

Ahmad Fajrusysyarif a.k.a. Madun said...

aduh itu bule..... tingginyaaaaaaa. =p
Jangan ditanggapi negatif nah, hahaha. Ada versi positifnya juga itu statement di atas

Dila said...

hahaha....ko'orang kesekian yg ngomong kyk gitu setelah ngeliat fotonya.malah ada yg blng sy tambah mungil hehehe
summer tahun depan janjian lagi tuh sm bule2 itu,mo jelajah Yogya-solo-semarang-sby backpacking beneran hehehe...