Tuesday, March 09, 2010

Backpacking in Bangkok - Thailand

previous :
1. Between Saigon and Phnom Penh
2. Our Story from Phnom Penh
3. Angkor Wat - Siem Reap Cambodia
4. Long Way Journey from Siem Reap to Bangkok

Bangkok tidak seindah yang saya bayangkan. Kami langsung disambut kemacetan panjang-layaknya di Jakarta, setelah menempuh hampir 12 jam perjalanan darat menyeberangi perbatasan antara Kamboja-Thailand.


Kesulitan langsung menghadang ketika kami bermaksud menuju ke hotel yang telah kami
booked di daerah Lumphini : tukang taksi di Bangkok yang kebanyakan tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris (sehingga sulit untuk menjelaskan alamat hotel kami yang terletak tepat di seberang Lumphini Park) serta warga lokal yang terus-menerus membujuk kami untuk menggunakan tuk-tuk. So annoying....

Khaosan Road yang tersohor itu hanya berupa jalanan lebar sepanjang 500 meter, yang sekelilingnya diapit hotel, hostel, bar, restoran dan pusat keramaian lainnya. Sedangkan sepanjang jalan terdapat pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam barang, mulai dari souvenir khas Thailand sampai pakaian2 mode terkini. Situasinya hampir mirip Poppies, Kuta- Bali. Harap dicatat, bahwa harga barang di tempat ini jauh lebih mahal dibandingkan barang2 di Wat Arun atau kawasan Pratunam. Penjualnya pun sombong2, tidak rela barangnya ditawar :(


Setelah berkeliling Khaosan Road untuk menukarkan USD yang kami miliki dengan Baht (kebanyakan transaksi di Bangkok menggunakan Baht dan tidak menerima USD seperti di Kamboja), kami pun akhirnya menemukan taksi ber-argo yang bersedia kami tumpangi (harap dicatat bahwa kebanyakan taksi di Bangkok tidak menggunakan argo dan pengemudi berhak menolak penumpang apabila lokasi dan harga yang diinginkan tidak disepakati), kami pun menembus kemacetan panjang
after office hour menuju hotel kami yang dikelilingi gedung perkantoran dan kedutaan besar asing.


Keesokan harinya, kami memulai petualangan kami dari Khaosan Road (dari Lumphini kami naik taksi ke Khaosan dengan biaya sekitar 100 baht atau sekitar 28.000 IDR) dan baru kemudian berkeliling dengan berjalan kaki. Persinggahan pertama kami adalah National Museum baru kemudian ke Grand Palace yang bisa dicapai dengan 10 menit berjalan dari Khaosan Road. Kami tiba sekitar pukul 9.00, dan Grand Palace sudah penuh oleh rombongan wisatawan.


Grand Palace merupakan Istana Raja yang di dalamnya tersimpan Emerald Budha (Budha tersuci di Thailand) di dalam kuilnya di Wat Phra Kaeo. Di Grand Palace bisa dinikmati arsitektur khas Thailand, seperti candi dan stupa dan lukisan kuno yang menceritakan Ramayana. Selain itu, di dalam kompleks seluas 218.000 meter persegi ini juga terdapat Royal Thai Decoration dan Coin Pavilion yang menyimpan medali dan properti kerajaan lainnya.



Untuk mengunjungi Grand Palace, perlu mengenakan pakaian yang sopan dan rapi. Celana pendek tidak diperbolehkan sama sekali, baik untuk perempuan maupun laki2. Celana panjang 7/8 saya pun tidak diperbolehkan karena dianggap terlalu ketat. Jadilah kami menyewa sarung untuk saya dan celana longgar untuk partner saya, seharga masing2 100 Baht. Namun, ketika sarung dikembalikan, maka penyewa berhak menerima 50 Baht kembali. Penyewaan sarung ini banyak terdapat di luar area Grand Palace. Di dalam Grand Palace juga terdapat penyewaan sarung serupa, namun harus menjaminkan paspor


Tiket masuk Grand Palace seharga 350 Baht/orang (sekitar 98.ooo IDR) dan pembelian tiket hanya dilayani sampai pukul 15.00. Tiket ini juga dapat digunakan untuk mengunjungi Vimanmek Mansion Museum (bangunan dari kayu jati terbesar di dunia yang terletak di Ratchawithi Road) yang valid sampai 7 hari setelah tanggal pembelian.


Perjalanan kami lanjutkan mengunjungi Wat Arun atau sering disebut Temple of The Dawn, yang berlokasi di Arun Amarin Road, tepat di tepi barat sungai Chao Phraya.


Untuk mencapai Wat Arun, kami menggunakan ferry untuk menyeberangi sungai seharga 3 Baht per-orang untuk sekali naik.


Tiket masuk ke Wat Arun adalah 50 Baht/orang. Temple ini terlihat lebih kusam dan tua dibandingkan Grand Palace yang megah. Turis yang berkunjung pun tidak seramai di Grand Palace. Tetapi kita dapat melihat hampir seluruh Kota Bangkok dari puncak Wat Arun.


Di area ini selain banyak penjual souvenir khas Thailand dengan harga murah meriah, juga tersedia penyewaan baju tradisional Thailand untuk digunakan berfoto seharga 100 Baht/pasang. Uniknya, para penjual souvenir di lokasi ini banyak yang mahir berbahasa Indonesia dan mengklaim turis Indonesia sebagai pembeli yang kalap dan jarang menawar :)



Tujuan berikutnya yaitu Wat Pho, dimana terdapat patung Budha tidur raksasa (sepanjang 46 meter), dimana mata dan kakinya terbuat dari kerang mutiara. Namun, karena kami berkunjung menjelang Imlek (13 Februari, Imlek pada 14 Februari 2010), maka turis hanya diperkenankan sampai di halaman kuil karena di dalam kuil dikhususkan untuk berdoa.



Malam hari di Bangkok, kami habiskan dengan mengunjungi Suan Lum Night Bazaar yang buka mulai sore sampai menjelang tengah malam. Tempat ini layaknya pasar malam, dimana banyak stan2 penjual dan tempat makan mulai dari kelas kaki lima sampai
fancy restaurant. Banyak barang2 unik dijual di tempat ini, namun harganya hampir sama dengan barang2 di Khaosan Road-mahal dan sulit ditawar.

-Pictures courtesy of Irwan Kadir using Canon EOS D1000-

3 comments:

greenfaj said...

suka yg pake baju tradisional itu dil

Mila Said said...

aku mau ke bangkok bulan depan... hihihii... untung inget ada artikel ini, tnyt berguna bgt buat referensi nih heheheeee

Dila said...

wuah mbak Mila,Februari ke Bangkok aja atau ada rencana ke selatan Thailand juga?
Aku 15 Feb nanti rencana jelajah Thailand Selatan : Hatyai-Krabi-Phuket :) Kalau ada rencana ke sana bisa janjian tuh hehehe..:")v